Bismillahirrahmanirrahim
Saudaraku sekalian, pagi ini kita akan merenungkan pertanyaan yang sangat penting: bagaimana cara kita masuk ke surga Firdaus, surga yang tertinggi? Allah SWT telah memberikan petunjuk yang jelas dalam Al-Qur’an mengenai dua cara untuk mencapai derajat mulia ini.
Cara Pertama: Jalan Standar Menuju Surga
Cara pertama dijelaskan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1-11. Ini adalah jalan standar yang harus kita tempuh:
- Menjaga shalat ketika waktu tiba
- Menunaikan zakat
- Menjauhi zina
- Berkata dengan perkataan yang baik dan sopan
- Berakhlak mulia
- Menjauhi perbuatan sia-sia (lagha)
Bagi mereka yang konsisten menjalankan amalan-amalan ini, Allah menjanjikan bahwa mereka akan disambut oleh seluruh malaikat di setiap pintu surga. Bahkan sejak masih di alam kubur, jasad mereka dijaga dan tidak hancur. Di alam barzakh mereka dimuliakan, dan ketika kembali kepada Allah, mereka diberi mahkota kehormatan.
Allah kemudian memerintahkan hamba-Nya yang shalih ini untuk memanggil keluarganya—ayah, ibu, pasangan, dan seluruh keluarga yang shalih—untuk bersama-sama masuk surga. Subhanallah, betapa indahnya balasan bagi orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan!
Cara Kedua: Jalan Istimewa Para Ahli Al-Qur’an
Jalan kedua adalah jalan yang lebih tinggi, yaitu jalan para ahli Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 23-24 dan Surah Fathir ayat 32-33 tentang golongan istimewa ini.
Mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah yang konsisten menjaga Al-Qur’an hingga ajal menjemput. Di akhirat nanti, mereka akan:
- Diberi jubah kehormatan
- Dipakaikan gelang emas
- Diberi mahkota kemuliaan
- Disambut malaikat di setiap pintu surga dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Selamat atas kesabaranmu)
- Diberi syafaat untuk membawa keluarga mereka masuk surga
Siapakah Ahli Al-Qur’an?
Perlu dipahami, ahli Al-Qur’an bukan hanya mereka yang hafal 30 juz. Ada tiga tingkatan ahli Al-Qur’an:
Pertama, mereka yang gemar membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Bahkan jika belum lancar membaca, namun konsisten datang ke majelis taklim, mengikuti kajian Al-Qur’an dengan tekun—mereka termasuk ahli Al-Qur’an.
Jangan malu untuk belajar! Malu itu hanya untuk kemaksiatan, bukan untuk kebaikan. Tidak masalah jika harus belajar bersama anak-anak TK atau SD. Yang penting adalah niat dan konsistensi.
Kedua, mereka yang menghafal Al-Qur’an dengan tekun dan istiqamah.
Ketiga, mereka yang mengamalkan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Kisah Inspiratif: Muadz Sang Tukang Ojek
Ada kisah nyata dari Mesir tentang seorang ayah tukang ojek bernama Muadz. Motornya sangat sederhana, jauh dari kata bagus. Namun, ia menjadikan motor tuanya sebagai kendaraan menuju surga.
Anaknya yang buta ingin menghafal Al-Qur’an. Sang ayah dengan penuh cinta mengantarnya sejauh 20 kilometer ke tempat guru tahfidz. Ia memodifikasi dashboard motornya agar mudah menempel kertas. Setiap kali antar-jemput, ayat-ayat yang dihafal anaknya dituliskan dan ditempel di dashboard.
Sepanjang perjalanan, sang anak membaca, sang ayah melihat jalan sambil mendengarkan. Akhirnya, sang anak yang buta berhasil menghafal 30 juz dengan sempurna. Yang mengejutkan, sang ayah yang hanya mengantar-jemput pun ikut hafal Al-Qur’an! Tajwid dan makhrajnya sempurna.
Ketika diwawancara wartawan Arab, sang anak ditanya: “Jika doamu dikabulkan Allah, apa yang akan kamu minta?”
Jawabnya sungguh memilukan sekaligus menggetarkan hati: “Aku akan berkata, ‘Ya Rabbi, mataku buta namun aku berusaha menghafal Al-Qur’an-Mu. Jika aku banyak dosa, mohon dengan Al-Qur’an ini, ringankanlah siksaku di neraka.'”
Anak yang belum baligh, buta, namun sudah mempersiapkan bekal menghadap Allah. Lalu bagaimana dengan kita?
Penutup dan Refleksi
Saudaraku, mari kita renungkan: kita bangga dengan motor bagus, pakaian mewah, jabatan tinggi di dunia. Tapi semua itu tidak akan dibawa saat kembali kepada Allah. Yang dibawa hanyalah amal.
Persiapkanlah minimal satu orang dalam keluarga yang menjadi kebanggaan di hadapan Allah kelak. Bukan kebanggaan dunia, tapi kebanggaan akhirat. Jadilah atau didiklah anak-anak kita menjadi ahli Al-Qur’an, agar mereka bisa membawa kita semua masuk surga Firdaus.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah di jalan-Nya dan menjadikan Al-Qur’an sebagai syafaat bagi kita di hari akhir.
Wallahu a’lam bishawab.
Disusun dari kajian Ustadz Adi Hidayat





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.