Summarize the post with AI
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang menggugah nurani: bagaimana seharusnya seorang Muslim Ahlussunnah bersikap ketika melihat kelompok yang berbeda akidah turut membela saudara kita yang tertindas di Palestina? Pertanyaan ini muncul ketika Iran, negara yang mayoritas penduduknya menganut paham Syiah, menunjukkan sikap tegas membela Palestina yang sedang mengalami penjajahan brutal oleh Israel.
Menempatkan Prioritas: Kemanusiaan sebagai Landasan
Buya Yahya menegaskan bahwa dalam konteks tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina, kita harus mampu menempatkan prioritas dengan bijaksana. “Perbedaan urusan keyakinan itu berbeda. Hari ini bukan waktunya kita bicara tentang itu,” ujar Buya Yahya tegas.
Beliau mengingatkan bahwa kita sudah terlalu terlambat untuk sekadar berdebat soal perbedaan mazhab, sementara Israel sebagai musuh kemanusiaan terus melakukan pembantaian. Yang harus kita yakini bersama adalah bahwa Israel adalah musuh kita semuaโbukan hanya sebagai umat Islam, tetapi sebagai manusia yang memiliki hati nurani.
Melampaui Batas Agama: Jejak Nurani Kemanusiaan
Persoalan Palestina telah melampaui sekat-sekat agama dan ideologi. Ini bukan lagi semata urusan keyakinan, melainkan sudah menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan yang paling nyata di hadapan mata dunia.
“Sekarang dukungan keluar bukan dari orang yang mengaku Islam saja. Di luar Islam pun banyak dukungan untuk orang Palestina,” jelas Buya Yahya. Bahkan orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan bangsaโInggris, Tiongkok, dan negara-negara lainโturut angkat suara membela Palestina. Mereka bergerak bukan karena persamaan akidah, tetapi karena nurani kemanusiaan yang masih hidup dalam dada mereka.
Siapa yang Layak Disebut Pejuang Kemanusiaan?
Buya Yahya menyampaikan pandangan yang jernih: “Selagi mereka datang untuk menghancurkan kezaliman terhadap kemanusiaan, mereka adalah pejuang dunia.” Siapapun yang hadir untuk menghentikan pembantaian di Palestinaโapakah dari Iran, Inggris, Tiongkok, atau negara lainnyaโsepanjang niatnya membela keadilan, maka ia layak mendapat dukungan.
Jangan sampai karena terjebak pada perbedaan keyakinan, kita kemudian buta terhadap musuh bersama yang jauh lebih berbahaya. Israel dan kezalimannya adalah ancaman nyata yang harus dihentikan. “Jangan sampai gara-gara berbeda keyakinan, lalu kita tidak tahu bahwa ada musuh bersama yang membahayakan dunia,” tegas beliau.
Ujian bagi Hati Nurani
Dengan nada yang penuh keprihatinan, Buya Yahya menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan: ada sebagian orang yang mengaku Muslim, tetapi justru menjadikan tragedi Palestina sebagai bahan guyonan, atau bahkan tidak merasakan empati sama sekali.
“Kalau ada orang tidak pernah sedih dengan kasus Palestina, tidak pernah tergerak untuk membantu Palestina, bahkan malah membela pihak yang memusuhi Palestinaโini kan aneh sekali, hatinya di mana?” ujar Buya Yahya dengan nada bertanya.
Beliau mengingatkan bahwa ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama manusia adalah tanda matinya nurani. “Orang-orang begitu adalah orang yang tidak punya perasaan. Akankah Anda izinkan hidup bersama Anda, bersama keluarga Anda, bersama lingkungan Anda? Wong hatinya mati.”
Bahkan bagi mereka yang hanya bersimpati atau diam saja ketika ada yang mengolok-olok penderitaan Palestina, Buya Yahya memberikan peringatan keras: “Anda ini bermasalah. Bagaimana Anda melihat orang yang tertawa di balik musibah, kok Anda masih tenang-tenang saja?”
Kewajiban Bersama: Membela yang Terzalimi
Tragedi Palestina adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia yang masih memiliki hati nurani. Buya Yahya memberikan analogi sederhana: seandainya negara manapunโentah Tiongkok, Inggris, atau negara lainnyaโdiserang secara zalim, maka kita pun tidak boleh diam. Ini adalah fitrah kemanusiaan yang paling dasar.
“Urusan kita adalah urusan kemanusiaan,” tegas beliau. “Kita tidak boleh diam melihat satu negeri diganggu dengan zalim oleh negeri lain.”
Bagi umat Muslim, kewajiban ini memiliki dimensi yang lebih dalam lagi. Di samping dorongan nurani kemanusiaan, ada perintah agama yang mewajibkan untuk membela saudara seiman yang tertindas. “Keimanan kita justru menuntut kita untuk membela Palestina semampu kita, sedahsyat, sekuat-kuatnya, sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya,” jelas Buya Yahya.
Bentuk Dukungan Nyata
Dukungan kepada Palestina dapat diwujudkan melalui berbagai cara sesuai kemampuan masing-masing:
- Doa yang Tulus – Panjatkan doa kepada Allah SWT agar memberikan kemenangan kepada rakyat Palestina
- Bantuan Materi – Menyalurkan harta untuk keperluan kemanusiaan di Palestina
- Menyebarkan Kebenaran – Memberitahu dunia tentang kezaliman yang terjadi
- Aksi Nyata – Melakukan upaya apapun yang mampu kita lakukan sesuai kapasitas
Yang terpenting adalah semangat untuk tidak tinggal diam, dan tidak menjadi bagian dari mereka yang abai terhadap penderitaan sesama.
Penutup: Introspeksi di Bulan Ramadhan
Di bulan penuh ampunan ini, marilah kita renungkan kembali: di manakah posisi hati kita? Apakah kita termasuk orang yang masih memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama, ataukah hati kita sudah mengeras?
Buya Yahya menutup dengan pesan yang mengena: “Siapapun yang hari ini punya jasa untuk kemanusiaan di Palestina, maka tidak boleh kita tidak mendukungnya. Kita harus bersama-sama untuk menghentikan kezaliman di Palestina.”
Semoga kajian ini membuka mata dan hati kita untuk bersikap lebih bijaksana, mengutamakan kemanusiaan universal di atas perbedaan-perbedaan yang sifatnya partikular, dan terus berjuang membela yang hak melawan yang batil.
Wallahu a’lam bis-shawab.
Catatan Penutup:
Mari kita perbanyak berselawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW di bulan mulia ini. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.