PUNGGAWANEWS, GAZA – Konflik di Jalur Gaza kembali memanas. Menjelang penyelenggaraan pertemuan Dewan Perdamaian (Board of Peace) di ibu kota Amerika Serikat pekan ini, Israel melancarkan serangkaian serangan yang menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina sejak Minggu lalu. Aksi militer ini dinilai mencederai kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.

Serangan paling mematikan terjadi di kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara, di mana pasukan Israel membombardir tenda-tenda penampungan warga sipil. Lima orang dinyatakan tewas dalam insiden tersebut, demikian disampaikan sumber dari rumah sakit setempat kepada media Aljazirah.

Tidak hanya di utara, wilayah selatan Gaza juga menjadi sasaran. Lima korban jiwa lainnya berjatuhan akibat serangan di kawasan barat Khan Younis. Korban kesebelas adalah Sami al-Dahdouh, seorang komandan militer dari kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ), yang tewas dalam operasi Israel di lingkungan Tal al-Hawa, timur Kota Gaza.

Hamas: Ini Pembantaian dan Eskalasi Kriminal

Hazem Qassem, juru bicara Hamas, dengan tegas mengecam tindakan Israel. “Ini adalah pembantaian baru dan eskalasi kriminal,” tegasnya. Qassem menilai serangan-serangan ini sebagai bukti bahwa Israel sengaja menciptakan kenyataan berdarah di lapangan.

“Rezim pendudukan ingin menunjukkan bahwa semua upaya untuk menciptakan ketenangan di Gaza tidak ada artinya. Mereka terus melakukan agresi meskipun banyak pihak menyerukan kepatuhan terhadap gencatan senjata,” ujar Qassem.

Lebih dari 600 Korban Tewas Sejak “Gencatan Senjata”

Ironisnya, sejak kesepakatan gencatan senjata hasil mediasi AS dan Qatar diberlakukan pada 10 Oktober lalu, justru lebih dari 600 warga Palestina tewas dan sekitar 1.600 orang terluka akibat aksi militer Israel. Gencatan senjata ini sebenarnya merupakan bagian dari skema Presiden Donald Trump untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang telah merenggut ribuan nyawa warga Palestina selama dua tahun terakhir.

Data dari Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat angka yang mengejutkan: Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sebanyak 1.620 kali dalam kurun waktu 10 Oktober 2025 hingga 10 Februari 2026. Namun, Israel balik menuduh Hamas melanggar perjanjian dengan melaporkan empat tentara mereka tewas dalam serangan kelompok perlawanan Palestina.

Trump Umumkan Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian

Di tengah eskalasi kekerasan ini, Presiden Trump mengumumkan bahwa pertemuan pertama Dewan Perdamaian akan digelar Kamis ini di Washington. Melalui akun Truth Social-nya pada Minggu kemarin, Trump mengklaim para anggota dewan telah berjanji menggelontorkan dana lebih dari 5 miliar dolar AS untuk membangun kembali Gaza yang porak-poranda.

“Mereka juga akan menyediakan ribuan personel untuk Pasukan Stabilisasi Internasional dan Polisi Lokal guna menjaga keamanan dan perdamaian bagi warga Gaza,” tulis Trump.

Washington dikabarkan mematok “biaya keanggotaan” sebesar 1 miliar dolar AS bagi negara-negara yang ingin bergabung dalam dewan ini. Laporan menyebutkan Uni Emirat Arab menjadi yang pertama berkomitmen, disusul kemungkinan Kuwait. Tiga negara lainnya belum mengumumkan secara terbuka.

Ambisi Melampaui Gaza, Beberapa Sekutu AS Menolak

Yang menarik, Dewan Perdamaian yang semula dirancang khusus untuk menyelesaikan konflik Gaza, kini diperluas mandat nya untuk menangani konflik-konflik global lainnya. Langkah ini dipandang sebagai upaya AS meminggirkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam tata kelola perdamaian dunia.

Namun tidak semua berjalan mulus. Sejumlah sekutu utama Amerika Serikat dilaporkan enggan bergabung dalam dewan kontroversial ini. Belum jelas pula berapa dari 20 anggota yang bakal hadir dalam pertemuan perdana nanti.

Saling Tuntut Kepatuhan terhadap Kesepakatan

Dalam unggahannya, Trump juga menuntut Hamas untuk “menjunjung tinggi komitmen terhadap Demiliterisasi Penuh dan Segera.”

Sebaliknya, Qassem dari Hamas justru meminta Dewan Perdamaian menekan Israel agar berhenti melanggar gencatan senjata. “Paksa mereka untuk melaksanakan apa yang telah disepakati tanpa penundaan atau manipulasi,” desak Qassem.

Dengan pertemuan Dewan Perdamaian tinggal hitungan hari lagi, dunia menanti apakah forum baru ini mampu membawa solusi nyata atau justru menambah kompleksitas konflik Timur Tengah yang sudah berlangsung puluhan tahun.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________