Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, BANGKOK – Di balik gemerlap industri pariwisata dan keindahan alamnya yang memesona, Thailand menyimpan catatan sejarah Islam yang mengejutkan. Fakta mencengangkan terungkap: akar penyebaran Islam di Negeri Gajah Putih ini ternyata memiliki keterkaitan erat dengan Indonesia, khususnya melalui Kesultanan Samudra Pasai di Aceh.
Awal Mula Islamisasi Tanah Siam
Mengutip dari literatur “Islam in Thailand before the Bangkok Period”, kedatangan pertama ajaran Islam ke wilayah yang kini bernama Thailand telah dimulai sejak abad ke-9 Masehi. Para pedagang dari Arab dan Persia yang melintasi jalur perdagangan maritim menjadi pembawa pertama nilai-nilai Islam ke kawasan yang ketika itu masih dikenal sebagai Kerajaan Siam.
Transformasi nama dari Siam menjadi Thailand baru terjadi pada 1939, namun jejak Islam telah mengakar jauh sebelum perubahan identitas negara tersebut.
Puncak islamisasi secara masif tercatat pada abad ke-13, terutama di kawasan selatan Thailand yang dulunya merupakan wilayah Kesultanan Patani. Yang menarik, peran Kesultanan Samudra Pasai dari Aceh menjadi kunci utama dalam proses penyebaran agama Islam di region ini.
Kisah Unik Masuk Islam Penguasa Lokal
Menurut catatan sejarah lokal, penerimaan Islam di Patani berawal dari peristiwa dramatis. Seorang penguasa setempat yang menderita penyakit serius disembuhkan oleh seorang muslim dari Pasai. Meski telah merasakan mukjizat kesembuhan, sang penguasa awalnya enggan memeluk Islam.
Namun, setelah berkali-kali mengalami sakit dan berulang kali disembuhkan oleh orang yang sama, akhirnya hati penguasa tersebut terbuka. Keislamannya kemudian diikuti oleh sebagian besar rakyatnya, menandai babak baru peradaban Islam di Thailand Selatan.
Bukti Fisik: Masjid-Masjid Peninggalan Indonesia
Kontribusi nyata masyarakat Indonesia terhadap perkembangan Islam di Thailand dapat disaksikan melalui bangunan-bangunan ibadah bersejarah. Salah satu yang paling ikonik adalah Masjid Jawa di kawasan Sathorn, Bangkok, yang didirikan pada awal abad ke-20.
Pendirinya, Haji Muhammad Saleh, seorang perantau dari Jawa yang tiba di Bangkok pada abad ke-19, mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid pada 1906. Sosok ini memiliki hubungan istimewa dengan tokoh besar Indonesiaโbeliau adalah mertua KH Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Islam Muhammadiyah.
Arsitektur Masjid Jawa menampilkan ciri khas Nusantara yang kental: atap bertingkat tiga yang mengingatkan pada Masjid Agung Demak dan Masjid Kauman Yogyakarta. Struktur ini bukan sekadar estetika, melainkan mengandung filosofi Islam-Iman-Ihsan. Keberadaan beduk sebagai penanda waktu salat semakin memperkuat identitas Indonesia pada bangunan ini.
Tidak hanya Masjid Jawa, terdapat pula Masjid Indonesia di kawasan yang sama, juga dibangun di atas tanah wakaf Haji Muhammad Saleh. Bangunan kayu aslinya yang berusia 56 tahun kemudian direnovasi total pada 2005 menjadi struktur tiga lantai yang lebih megah.
Demografi Muslim Thailand Masa Kini
Data terkini menunjukkan, populasi muslim Thailand mencapai sekitar 7,5 juta jiwa atau 10,4% dari total 71,6 juta penduduk per 2024. Mayoritas terkonsentrasi di provinsi-provinsi selatan seperti Patani, Yala, Narathiwat, dan Satun.
Meski hidup sebagai minoritas di tengah dominasi agama Buddha (lebih dari 80% populasi), umat Islam Thailand dapat menjalankan ibadah dengan relatif bebas. Infrastruktur keagamaan seperti masjid, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam tersedia memadai, menjaga kontinuitas praktik keagamaan dan identitas komunitas.
Di wilayah selatan, suasana Islami sangat terasa. Masjid-masjid megah berdiri di sepanjang jalan, suara azan berkumandang lima waktu seperti lazimnya di Indonesia, dan penggunaan sarung sebagai pakaian sehari-hari menjadi pemandangan umum.
Sarung: Benang Merah Budaya Nusantara-Thailand
Kemiripan budaya antara Indonesia dan Thailand juga terlihat dari tradisi memakai sarung. Meski selama ini dianggap pakaian khas Indonesia, faktanya sarung telah digunakan di berbagai negara Asia sejak abad ke-14, dibawa oleh pelaut serta pedagang Arab dan India.
Thailand bahkan memiliki sarung khas bernama “pha khao ma” yang kini tengah diusulkan sebagai warisan budaya UNESCO, sebagai strategi mendongkrak sektor pariwisata.
Bicara pariwisata, Thailand memang unggul telak. Jika Indonesia memiliki Bali, Thailand mengandalkan Pattaya. Pemasukan dari industri pariwisata Thailand mencapai angka fantastis Rp757 triliun, jauh melampaui Indonesia yang hanya meraup sekitar Rp267 triliun.
Kopanyi: Desa Terapung Warisan Leluhur Jawa
Salah satu peninggalan paling unik komunitas Indonesia di Thailand adalah Desa Kopanyi (Kampung Jawa), sebuah pemukiman terapung berusia 200 tahun di lepas pantai Thailand Selatan.
Desa ini didirikan oleh tiga keluarga nelayan keturunan Jawa yang mencari lokasi penangkapan ikan ideal. Mereka akhirnya menemukan teluk yang dikelilingi formasi batuan kapur setinggi 20 meter di Provinsi Phang Nga.
Dengan cerdik, mereka membangun rumah-rumah di atas air menggunakan tiang pancang, menghindari larangan hukum Thailand yang melarang warga asing memiliki tanah. Kini, Kopanyi dihuni lebih dari 400 keluarga dengan total sekitar 1.800 jiwaโ100% beragama Islam.
Desa ini dilengkapi fasilitas lengkap: masjid, sekolah, rumah sakit, pasar, toko, rumah makan, lapangan sepak bola terapung (dibangun pasca Piala Dunia 1986), peternakan ikan, bahkan hotel sederhana.
Sayangnya, hanya generasi tua yang masih fasih berbahasa Indonesia. Generasi muda telah beralih ke bahasa Thailand, dan keterbatasan lahan memaksa mereka mencari tempat tinggal di daratan.
Warisan yang Terus Hidup
Sejarah Islam di Thailand adalah cermin kontribusi besar bangsa Indonesia dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Dari para pedagang dan ulama Samudra Pasai, hingga perantau Jawa yang membangun masjid dan desa terapung, jejak peradaban Nusantara tetap hidup di negeri orang.
Keberadaan komunitas muslim yang harmonis di tengah mayoritas Buddha juga menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola dengan baik, menjadi pelajaran berharga tentang toleransi dan hidup berdampingan.
Sumber: Tayangan Spesial Ramadan Episode 16 – “Melihat Kehidupan Islam Di Thailand Ternyata Warisan Asal Indonesia”





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.