PUNGGAWANEWS, SEOUL – Di balik gemerlap K-pop, drama Korea, dan gedung pencakar langit Samsung yang menjulang tinggi, tersimpan kisah panjang tentang keberadaan Islam di Semenanjung Korea yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun. Meski bukan agama mayoritas, komunitas muslim di Korea Selatan kini mengalami pertumbuhan pesat yang mencengangkan.
Akar Sejarah: Pedagang Muslim di Era Dinasti Silla
Kehadiran Islam di Korea dapat ditelusuri hingga abad ke-9 Masehi, saat Dinasti Silla yang gemilang menjalin hubungan perdagangan internasional melalui Jalur Sutra legendaris. Para saudagar muslim dari Timur Tengah dan Asia Tengah—khususnya Irak dan Persia—tiba membawa komoditas berharga: rempah-rempah, kain sutra, perhiasan, dan barang eksotis lainnya.
Namun kedatangan mereka bukan sekadar transaksi ekonomi belaka. Para pedagang ini membangun permukiman kecil di kota-kota pelabuhan strategis seperti Gyeongju, ibu kota Silla kala itu. Mereka menikah dengan penduduk lokal, beradaptasi dengan kehidupan setempat, dan perlahan memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Korea.
Geografer muslim terkemuka, Ibnu Khurdazbih, mencatat dalam manuskrip abad ke-9 tentang interaksi antara Muslim dan masyarakat Semenanjung Korea. Bukti arkeologis berupa patung-patung penjaga kerajaan dengan karakteristik khas Timur Tengah memperkuat dugaan adanya pengaruh budaya Persia dalam seni dan arsitektur Korea periode tersebut.
Kejayaan Era Goryeo dan Keruntuhan di Masa Joseon
Saat Dinasti Goryeo berkuasa (918-1392), hubungan dengan dunia Islam mencapai puncaknya. Pedagang muslim, terutama dari Persia dan Asia Tengah, menjadi tulang punggung perdagangan internasional yang menghubungkan Korea dengan jaringan global Timur-Barat.
Di ibu kota Kaesong, komunitas muslim memiliki tempat ibadah yang disebut “Yeogung” (Aula Seremonial). Masyarakat muslim saat itu dikenal dengan sebutan “Hui-Hui”, istilah yang juga digunakan untuk menyebut muslim Hui dari China.
Namun angin berubah drastis ketika Dinasti Joseon naik tahta pada 1392. Pemerintahan baru mengadopsi Konfusianisme sebagai ideologi negara dan menekan keberadaan agama-agama lain yang dianggap mengancam tatanan sosial. Masjid-masjid yang berdiri di era Goryeo kehilangan dukungan, komunitas muslim melebur ke masyarakat lokal, dan Islam nyaris lenyap dari catatan sejarah Korea selama berabad-abad.
Kebangkitan Abad ke-20: Pasukan Turki dan Kelahiran Kembali Islam
Islam kembali menapak di Korea pada abad ke-20, khususnya pasca Perang Korea (1950-1953). Korea Selatan menerima bantuan dari Turki yang mengirimkan Brigade Turki dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tentara Turki tidak hanya bertempur, tetapi juga membawa kembali ajaran Islam ke tanah Korea.
Interaksi antara pasukan Turki dan warga Korea memantik kembali ketertarikan terhadap Islam. Beberapa warga Korea mulai mempelajari ajaran agama ini secara serius. Pada 1976, tonggak bersejarah tercipta dengan berdirinya Seoul Central Mosque di kawasan Itaewon—kini menjadi pusat keislaman utama di Korea Selatan.
Ledakan Populasi Muslim: Dari 45.000 hingga 400.000 Jiwa
Perkembangan Islam di Korea Selatan modern menunjukkan tren mengejutkan. Pada 2002, populasi muslim hanya sekitar 45.000 orang. Angka ini melonjak menjadi 260.000 pada 2020, dengan 60.000 di antaranya adalah warga Korea asli yang menjadi mualaf.
Data terkini tahun 2024 mencatat populasi muslim mencapai 400.000 jiwa—dimana 319.000 adalah warga asing. Artinya, dalam tiga tahun terakhir, komunitas muslim Korea Selatan tumbuh lebih dari 50 persen.
Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya pekerja migran dari Pakistan, Bangladesh, Indonesia, dan Malaysia, serta semakin banyaknya warga Korea yang tertarik mempelajari Islam hingga memutuskan bersyahadat.
Seiring pertumbuhan populasi, infrastruktur pendukung juga berkembang pesat. Kini terdapat lebih dari 60 masjid dan musala tersebar di berbagai kota besar, restoran bersertifikat halal bermunculan, dan komunitas muslim aktif memperkenalkan Islam di tengah masyarakat Korea yang semakin plural.
Wajah-wajah Mualaf: Kisah Inspiratif dari Negeri Ginseng
Di antara gelombang mualaf Korea, beberapa nama mencuri perhatian publik. Ayana Jun, seorang gadis cantik yang fasih berbahasa Indonesia dan kerap muncul di televisi Indonesia, adalah salah satunya. Lahir dan besar dalam keluarga Korea yang terbuka terhadap keberagaman, Ayana mulai tertarik pada Islam di usia 17 tahun setelah menyelami budaya Timur Tengah.
“Semakin saya memahami esensi Islam, semakin saya merasakan ketenangan yang sebelumnya tidak pernah saya temukan,” ungkap Ayana dalam berbagai kesempatan.
Kisah lain datang dari Lee Joo-hwa, seorang peneliti yang menghabiskan 200 jam membaca buku tentang sejarah dunia Islam sebelum memutuskan memeluk agama ini. Juga Ha Na-yeon, yang awalnya tidak beragama namun tertarik pada Islam setelah bekerja di Korea Muslim Federation (KMF) pada 2008.
Unik adalah kisah Munah (Hun Min-bae), seorang ilustrator dan selebgram yang viral karena karyanya menggambarkan wanita berhijab mengenakan Hanbok, pakaian tradisional Korea. Melalui Instagram, ia menggabungkan identitas sebagai Muslimah dengan warisan budaya Korea, memberikan perspektif baru tentang toleransi dan keberagaman.
Ramadan di Seoul: Iftar Lintas Budaya di Itaewon
Bulan Ramadan menjadi momen spesial bagi komunitas muslim Korea Selatan. Kawasan Itaewon, tempat Seoul Central Mosque berdiri megah, berubah menjadi pusat kegiatan keagamaan. Setiap akhir pekan, masjid menyelenggarakan iftar (buka puasa bersama) yang dihadiri muslim dari Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara.
Sebelum azan maghrib berkumandang, antrian panjang terbentuk di halaman masjid untuk mendapatkan paket iftar yang disediakan berbagai organisasi Islam. Menu berbuka pun beragam: kurma, buah-buahan segar, hingga hidangan khas berbagai negara.
Restoran halal seperti Little India Seoul juga menyelenggarakan acara iftar yang diinisiasi Indian Overseas Congress South Korea. Menariknya, acara ini tidak hanya untuk Muslim—masyarakat umum pun diundang untuk merasakan pengalaman berbuka puasa bersama, memperkuat pesan perdamaian dan solidaritas lintas agama.
Setelah salat Tarawih, kawasan Itaewon masih hidup dengan jajanan khas Korea: cumi-cumi panggang butter yang gurih smoky, hotteok (pancake Korea berisi gula merah dan kacang), serta Shipwon-ppang (roti berbentuk koin 10 Won dengan isian keju meleleh). Berburu kuliner malam di Itaewon menjadi pengalaman tak terlupakan yang memadukan spiritualitas Ramadan dengan kekayaan kuliner Korea.
Masa Depan Islam di Negeri K-Pop
Perjalanan Islam di Korea Selatan—dari pedagang Jalur Sutra abad ke-9, penghapusan di era Joseon, hingga kebangkitan modern—menunjukkan resiliensi luar biasa. Meski minoritas, komunitas muslim Korea tumbuh dinamis, menjaga tradisi dan keyakinan di tengah masyarakat yang mayoritas bukan muslim.
Kisah para mualaf Korea yang dengan bangga membagikan identitas spiritual mereka, berdampingan harmonis dengan warisan budaya lokal, menjadi bukti bahwa keberagaman dapat tumbuh subur bahkan di tengah modernitas dan homogenitas budaya yang kental.
Islam di Korea Selatan bukan lagi sekadar jejak sejarah—ia kini menjadi bagian nyata dari mozaik keberagaman Negeri Ginseng yang terus berkembang.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.