PUNGGAWANEWS, Harga Bitcoin (BTC) menghadapi risiko mencatatkan rekor negatif dengan berpotensi membentuk candle tahunan merah pertama sejak periode pascahalving, seiring pergerakan harga yang masih tertahan di area US$88.000 menjelang penutupan tahun 2025.
Mengutip Cointelegraph, Minggu (28/12/2025), data TradingView menunjukkan pergerakan Bitcoin cenderung stagnan dalam dua hari terakhir, ditandai dengan volatilitas yang sangat terbatas. Kondisi ini mencerminkan minimnya dorongan kuat baik dari sisi beli maupun jual.
$BTC has probably 5-6 days of sideways price action left.
— BitBull (@AkaBull_) December 26, 2025
As 2025 ends, this is what going to happen:
– Those who sold at a loss for tax harvesting will buyback BTC
– Investors will allocate into underperforming assets in Jan 2026 as they always do.
This could trigger a… pic.twitter.com/3NejU5j2do
Pada perdagangan Jumat lalu, harga Bitcoin sempat mengalami pergerakan semu (fakeout) akibat perburuan likuiditas yang terjadi bersamaan dengan jatuh tempo opsi Bitcoin senilai sekitar US$24 miliar. Tekanan tersebut dinilai mempersempit ruang gerak harga dalam jangka pendek.
Meski demikian, sejumlah analis masih melihat peluang pemulihan harga sebelum akhir tahun. Salah satu indikasi teknikal datang dari munculnya bullish divergence pada indikator Relative Strength Index (RSI) di grafik tiga hari.
Trader Jelle menilai pola tersebut memiliki kemiripan dengan dua fase bottom sebelumnya. “Bitcoin mengunci bullish divergence tiga hari tepat di atas area support utama. Pola serupa juga terjadi pada dua titik terendah sebelumnya. Apakah sejarah akan kembali terulang?” tulisnya melalui platform X.
Optimisme juga didorong oleh faktor musiman. Trader BitBull menilai awal Januari berpotensi menjadi katalis penguatan harga, seiring institusi keuangan mulai melakukan realokasi dana ke aset yang sebelumnya mencatatkan kinerja kurang optimal.
“Situasi ini berpeluang memicu breakout dari garis tren dan membuka jalan bagi Bitcoin menuju level US$100.000,” ujarnya.
Sementara itu, analis teknikal Aksel Kibar memandang fase konsolidasi yang terjadi saat ini sebagai kondisi yang wajar, mengingat lonjakan harga signifikan yang tercatat pada kuartal III 2025.
“Volatilitas bergerak secara siklikal. Setelah periode volatilitas tinggi, biasanya pasar memasuki fase volatilitas rendah hingga terbentuk pola teknikal yang lebih jelas,” jelas Kibar.
Namun, tantangan utama Bitcoin terletak pada kinerja tahunan. Menjelang akhir tahun, BTC tercatat masih melemah sekitar 6,1% secara year-to-date (YTD). Kondisi ini membuka kemungkinan terbentuknya candle tahunan merah pertama setelah peristiwa halving, yang berpotensi menggoyahkan teori siklus empat tahunan Bitcoin.
Co-founder Material Indicators, Keith Alan, menekankan bahwa harga penutupan tahunan memiliki signifikansi lebih besar dibandingkan fluktuasi intraday.
“Pergerakan wick di atas atau di bawah level kunci adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah harga penutupan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa level pembukaan tahunan di sekitar US$93.500 masih berpeluang untuk diuji kembali sebelum akhir tahun. Jika Bitcoin gagal menembus area tersebut, maka penutupan tahun 2025 dapat menjadi catatan penting yang menantang narasi klasik siklus empat tahunan di pasar kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 21.50 WIB, harga Bitcoin tercatat di level US$87.934, menguat 0,52% dalam 24 jam terakhir, namun masih terkoreksi 0,02% dalam sepekan.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.