“Bantuan ini datang dari rasa persahabatan dan insaf dari negara-negara tersebut,” kata Mualim. Ia juga mengapresiasi bantuan dari masyarakat dan berbagai pihak dari Sumatera yang mengirimkan logistik hingga bertruk-truk.
Kebutuhan Mendesak dan Masa Depan Pendidikan
Mualim merinci tiga kategori kebutuhan mendesak: obat-obatan, selimut, dan pakaian; perlengkapan dapur termasuk gas LPG 3 kg dan perlengkapan ibadah; serta rekonstruksi infrastruktur dan rumah warga yang hancur. Presiden telah memberikan komitmen serius untuk segera melakukan rehabilitasi.
Khusus untuk anak-anak, kebutuhan terbesar adalah tenda-tenda sekolah karena banyak gedung pendidikan yang hancur. Proses belajar mengajar juga terhambat karena sulitnya akses bagi guru untuk datang ke pelosok yang terdampak berat.
“Sayangilah rakyat Aceh,” pinta Mualim. Ia menutup dengan pesan tentang keimanan di tengah musibah: “Cuma kita ya berserah diri kepada Allah, tidak serah diri kepada manusia. Kalau kita bersyukur setiap musibah, pasti kita akan ditambah nikmatnya.”
Hingga saat ini, proses evakuasi dan distribusi bantuan terus berlangsung sambil menanti penyelesaian akses darat ke wilayah-wilayah terisolir. (*)
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.