Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, TBILISI – Di tengah mayoritas penduduk yang memeluk agama Kristen Ortodoks, Georgia menyimpan keunikan luar biasa dalam kehidupan beragama. Negara yang terletak di persimpangan Eropa dan Asia ini memiliki sebuah masjid istimewa yang menjadi satu-satunya di dunia tempat jamaah Sunni dan Syiah menunaikan salat berjajar dalam satu barisan yang sama.
Permata Tersembunyi Kaukasus
Georgia, negara seluas sekitar 70.000 kilometer persegi, menawarkan pesona alam yang memukau. Dari kemegahan Pegunungan Kaukasus di wilayah utara hingga kesuburan Lembah Alazani di timur yang terkenal sebagai penghasil anggur berkualitas tinggi, negara ini diberkahi kekayaan geografis yang beragam. Pesisir Laut Hitam di bagian barat menghadirkan pemandangan pantai eksotis, sementara iklim sedang dan hangat sepanjang tahun menjadikannya destinasi wisata menarik bagi pelancong internasional.
Namun, daya tarik Georgia bukan hanya terletak pada keindahan alamnya. Sejarah panjang dan kompleks negara ini mencatat perjalanan berbagai peradaban, mulai dari Kerajaan Iberia dan Kolkis pada zaman kuno, pengaruh Bizantium dan Persia, hingga kekuasaan Uni Soviet di abad ke-20. Semua peradaban tersebut meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan dalam seni, arsitektur, dan tradisi masyarakat Georgia hingga kini.
Harmoni dalam Keberagaman
Keunikan Georgia semakin tampak dalam perpaduan budaya dan agama yang hidup berdampingan secara harmonis. Mayoritas penduduk menganut Kristen Ortodoks yang telah menjadi identitas kuat bangsa ini sejak abad keempat, ketika agama tersebut ditetapkan sebagai agama resmi negara. Gereja-gereja bersejarah dengan arsitektur khas Georgia, seperti Katedral Svetitskhoveli di Mtskheta dan Gereja Jvari, menjadi bukti nyata warisan keagamaan yang mendalam.
Meski demikian, keragaman agama di Georgia tidak terbatas pada Kristen. Sekitar 10 persen penduduk memeluk Islam, terutama di wilayah Ajara dan beberapa bagian Tbilisi. Selain itu, komunitas Yahudi yang telah bermukim selama berabad-abad turut memperkaya mozaik multikultural negara ini, menjadikan Georgia sebagai jembatan budaya antara Eropa dan Asia.
Jejak Panjang Islam di Georgia
Sejarah Islam di Georgia dimulai pada tahun 645 Masehi ketika pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan sebagian Georgia Timur. Kehadiran Muslim mengawali fase baru dalam sejarah negara yang sebelumnya didominasi tradisi Kristen Ortodoks.
Dari abad ke-8 hingga ke-11, Tbilisi bahkan menjadi ibu kota Emirat Tbilisi di bawah kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Emirat ini berkembang menjadi pusat perdagangan penting dan persinggahan strategis dalam jalur perdagangan antara Timur Tengah dan Eropa. Meski pengaruh politik Islam kuat, masyarakat Georgia tetap mempertahankan identitas Kristen mereka.
Pada abad ke-11, Raja David IV yang dijuluki “David the Builder” berhasil merebut kembali Tbilisi dari kekuasaan Muslim pada 1122, menandai berakhirnya Emirat Tbilisi. Namun, komunitas Muslim tetap bertahan, khususnya di daerah perbatasan yang berhubungan langsung dengan wilayah Islam di selatan.
Ketika Kekaisaran Ottoman memperluas pengaruhnya ke Kaukasus pada abad ke-16, Islam kembali menemukan pijakan, khususnya di wilayah Ajara. Pengaruh Ottoman selama berabad-abad menyebabkan sebagian penduduk memeluk Islam, dan hingga kini Ajara tetap menjadi salah satu wilayah dengan komunitas Muslim signifikan.
Era Penindasan dan Kebangkitan Kembali
Kondisi berubah drastis ketika Georgia menjadi bagian Kekaisaran Rusia pada abad ke-19. Kebijakan rusifikasi berupaya mengikis identitas budaya dan agama lokal, termasuk Islam. Tekanan berlanjut dengan keras selama era Soviet setelah 1921.
Selama masa Soviet, kebebasan beragama sangat dibatasi. Masjid-masjid ditutup atau dialihfungsikan, tokoh agama diawasi ketat bahkan dipersekusi. Lebih tragis lagi, selama Perang Dunia II, banyak Muslim Georgia dari wilayah Ajara dan Meskhetia dideportasi ke Turki atau Asia Tengah sebagai bagian dari kebijakan relokasi etnis Stalin. Deportasi massal ini meninggalkan luka mendalam dan mengakibatkan hilangnya sebagian besar populasi Muslim di beberapa daerah.
Meski demikian, Islam tidak pernah benar-benar lenyap dari Georgia. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991 dan proklamasi kemerdekaan Georgia, kebebasan beragama kembali diperoleh. Masjid-masjid dibuka kembali, dan komunitas Muslim mulai memulihkan serta membangun tempat ibadah yang telah rusak atau difungsikan lain.
Masjid Jumah: Simbol Persatuan Langka
Di jantung kota tua Tbilisi, tepatnya di kawasan Abanotubani yang terkenal dengan pemandian belerang kunonya, berdiri Masjid Jumah. Masjid dengan fasad batu bata merah yang berpadu indah dengan ubin biru ini menyimpan keunikan yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Masjid Jumah adalah satu-satunya masjid di dunia di mana jamaah Sunni dan Syiah beribadah bersama dalam satu barisan. Dua mazhab yang sering dianggap berbeda dan terpisah dalam berbagai aspek justru bersatu di sini. Keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan teologis tidak harus menjadi penghalang bagi persatuan dan kedamaian.
Bangunan yang terlihat saat ini merupakan hasil rekonstruksi pada abad ke-19, meski keberadaannya telah berlangsung lebih lama. Arsitekturnya menggabungkan elemen tradisional Georgia dengan sentuhan arsitektur Islam yang sederhana namun elegan.
Suasana damai dan penuh kehangatan menyambut setiap pengunjung yang melangkah masuk. Di tengah Georgia yang mayoritas Kristen Ortodoks, Masjid Jumah menjadi bukti bahwa harmoni antarumat beragama dapat tercipta dengan indah. Tidak jarang wisatawan, baik Muslim maupun non-Muslim, datang untuk menyaksikan sendiri bagaimana toleransi dan kerukunan diwujudkan di tengah keragaman.
Tbilisi: Kota Pertemuan Peradaban
Nama Tbilisi berasal dari kata Georgia “tbili” (hangat) dan “si” (air), secara harfiah berarti “tempat kehangatan”, merujuk pada sumber air panas belerang alami yang melimpah di daerah tersebut. Kota ini pernah menjadi titik penting dalam Jalur Sutra, rute perdagangan legendaris yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Sebagai kota penghubung strategis, Tbilisi tumbuh menjadi pusat perdagangan dan budaya dinamis di mana berbagai tradisi, agama, dan etnis bertemu dan bercampur. Namun, posisi strategis ini juga membuatnya menjadi rebutan berbagai kekuatan besar sepanjang sejarah, dari Kekaisaran Romawi, Persia, Arab, Mongol, hingga Rusia.
Berjalan di kawasan kuno Abanotubani adalah pengalaman yang membawa pengunjung ke masa lalu. Setiap langkah di atas jalan berbatu melewati deretan bangunan tua dengan dinding bata merah dan jendela berukir khas. Aroma belerang yang samar menyambut sejak memasuki kawasan, mengingatkan bahwa ini adalah jantung pemandian kuno yang telah menjadi bagian Tbilisi selama berabad-abad.
Kubah-kubah pemandian belerang berdiri kokoh, memancarkan kehangatan dari mata air panas di bawahnya. Pemandian ini merupakan salah satu warisan budaya Islam yang masih bertahan, dengan arsitektur yang dipengaruhi budaya Turki. Air belerang yang mengalir dari sumber alam di bawah tanah dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan kulit.
Warisan Kuliner dan Budaya
Georgia juga dikenal dengan tradisi kulinernya yang menggugah selera. Hidangan seperti khachapuri (roti dengan keju meleleh di tengahnya) dan khinkali (pangsit daging berbumbu) menjadi favorit wisatawan. Anggur Georgia yang terkenal dengan teknik pembuatan menggunakan qvevri (wadah tanah liat yang dikubur di bawah tanah) telah diakui sebagai salah satu warisan budaya tak benda UNESCO.
Kota-kota seperti Tbilisi menampilkan perpaduan arsitektur klasik dan modern yang memukau. Jalan-jalan sempit dengan bangunan bergaya Eropa abad pertengahan berdampingan dengan gedung-gedung modern, menciptakan lanskap urban yang dinamis dan penuh warna. Pengaruh era Soviet masih terasa melalui bangunan monumental dan patung-patung yang tersebar di berbagai kota.
Pesan Toleransi untuk Dunia
Tbilisi adalah kota yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam. Di sini, berbagai peradaban bertemu—Persia, Azerbaijan, Armenia, hingga Turki. Toleransi dan kerukunan menjadi pondasi utama dalam menjaga perdamaian di kota ini. Setiap sudutnya bercerita tentang bagaimana perbedaan bisa menjadi kekuatan, bukan penghalang.
Dari jejak kejayaan masa lalu hingga toleransi yang masih terjaga, Tbilisi dan Georgia secara keseluruhan menjadi bukti bahwa keberagaman dapat hidup harmonis di tengah perbedaan. Masjid Jumah, dengan keunikannya yang menyatukan Sunni dan Syiah dalam satu barisan salat, mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk menyatu.
Kisah perjalanan Islam di Georgia, khususnya di Tbilisi, memberikan inspirasi bagi dunia tentang pentingnya toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara damai meski berbeda keyakinan.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.