PUNGGAWANEWS – Dalam sebuah kajian keagamaan yang dihadiri ribuan jamaah di Masjid TSM, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan panduan komprehensif mengenai pelaksanaan ibadah Ramadhan khusus untuk kaum perempuan. Kajian yang berlangsung selama lebih dari dua jam ini mengupas tuntas berbagai aspek ibadah, mulai dari prioritas Ramadhan hingga hukum-hukum spesifik yang berkaitan dengan kondisi biologis perempuan.

Makna Mendalam di Balik Puasa Ramadhan

Ustadz Adi Hidayat membuka kajiannya dengan menjelaskan filosofi mendalam di balik kewajiban puasa. Berbeda dengan istilah ‘saum’ yang bermakna menahan secara umum, Al-Qur’an menggunakan kata ‘siyam’ untuk puasa Ramadhan—menandakan ibadah yang tersistem dengan aturan dan tata cara yang jelas.

“Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian, agar kalian bertakwa,'” jelas Ustadz Adi, menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah peningkatan ketakwaan.

Menurutnya, ketakwaan yang meningkat membawa berbagai keuntungan dalam kehidupan. Merujuk pada Surah At-Talaq ayat 2-3, ia menjelaskan bahwa siapa pun yang meningkatkan ketakwaannya, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga.

Keutamaan Luar Biasa Bulan Ramadhan

Dalam penjelasannya, Ustadz Adi memaparkan empat keutamaan utama Ramadhan. Pertama, meningkatkan ketakwaan yang membawa ketenangan jiwa, kemudahan rezeki, dan peningkatan pengetahuan. Kedua, doa yang dipanjatkan selama Ramadhan lebih mudah dikabulkan Allah SWT.

Ketiga, Ramadhan menjadikan kehidupan lebih penuh syukur. Dan yang paling istimewa, puasa Ramadhan dapat menggugurkan seluruh dosa yang pernah dilakukan sepanjang hidup.

Mengutip hadis riwayat Imam Bukhari nomor 37, ia menyampaikan, “Barangsiapa yang menunaikan salat tarawih di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.”

“Ini luar biasa,” tegas Ustadz Adi. “Begitu seseorang takbir untuk salat tarawih dengan niat yang ikhlas karena Allah, pada saat itu juga seluruh dosa yang pernah dilakukan sepanjang hidupnya digugurkan. Tidak ada kesempatan seperti ini di luar Ramadhan.”

Kurikulum Ramadhan untuk Muslimah

Bagian penting dari kajian ini membahas amalan-amalan yang setara antara laki-laki dan perempuan, serta yang spesifik untuk muslimah. Untuk amalan setara, salat tarawih menjadi pembahasan utama.

Ustadz Adi menjelaskan makna kata ‘tarawih’ yang berasal dari ‘tarwihah’, artinya keadaan yang santai dan menenangkan jiwa. “Ini memberikan petunjuk bahwa tarawih harus dilakukan dengan tenang, tidak terburu-buru, agar jiwa kita merasa nyaman dan tenang,” jelasnya.

Mengenai jumlah rakaat tarawih, ia menyampaikan bahwa tidak ada batasan pasti dari Nabi SAW. Hadis riwayat Imam Bukhari menyebutkan Nabi melakukan salat malam dengan cara dua rakaat dua rakaat, lalu ditutup dengan witir satu rakaat. Yang terpenting adalah memperbanyak bacaan Al-Qur’an, karena setiap huruf yang dibaca di bulan Ramadhan mendapat pahala minimal 10 kali lipat.

Hukum Khusus untuk Muslimah: Haid, Nifas, dan Kondisi Khusus

Dalam sesi khusus yang ditunggu-tunggu, Ustadz Adi merinci hukum-hukum yang berkaitan dengan kondisi biologis perempuan.

Muslimah yang Haid atau Nifas

Para ulama sepakat bahwa muslimah yang sedang haid atau nifas tidak menunaikan salat dan puasa. Puasa yang tertinggal wajib diqadha setelah Ramadhan, sementara salat tidak perlu diqadha.

“Jika seseorang suci sebelum fajar, walaupun hanya lima menit sebelumnya, maka wajib baginya untuk berpuasa pada hari itu,” jelas Ustadz Adi. “Ia boleh sahur terlebih dahulu, berniat puasa, kemudian mandi dan salat subuh.”

Sebaliknya, jika haid datang di siang hari, bahkan lima menit sebelum berbuka, puasa hari itu batal dan harus diqadha. Namun, ada kabar gembira: muslimah yang terbiasa beribadah dengan baik, ketika masa haid tiba dan menghentikan amalannya, pahalanya tetap dicatat oleh Allah sesuai kebiasaan ibadahnya.

Ibu Hamil dan Menyusui

Untuk ibu hamil dan menyusui, hukumnya lebih fleksibel. Jika merasa aman untuk dirinya dan bayinya, serta telah menemukan pola yang tepat, sangat dianjurkan untuk berpuasa.

Namun jika merasa kesulitan atau khawatir membahayakan diri atau bayi, boleh berbuka. Dalam kondisi yang secara medis tidak memungkinkan untuk puasa, wajib berbuka.

Mengenai gantinya, Ustadz Adi memaparkan tiga pendapat ulama. Pertama, jika khawatir untuk dirinya saja, cukup qadha tanpa fidyah. Kedua, jika kondisi sangat berat sehingga seperti tercekik, cukup fidyah saja. Ketiga, jika khawatir untuk bayinya bukan untuk dirinya (biasanya dalam kasus menyusui), maka wajib qadha dan fidyah sekaligus.

“Dalam praktiknya, Islam memberikan kemudahan,” tambah Ustadz Adi. “Jika seseorang mampu melakukan qadha, lebih baik qadha. Jika sangat berat, boleh memilih fidyah. Yang penting tidak meringan-ringankan.”

Untuk fidyah, ukurannya adalah memberikan makan dengan standar yang wajar untuk satu orang setiap harinya. Yang terbaik adalah memberikan fidyah setiap hari yang tidak dipuasa, agar terasa ibadahnya.

Amalan untuk Muslimah yang Tidak Berpuasa

Bagi muslimah yang tidak berpuasa karena alasan syar’i, ada amalan yang tidak boleh dan boleh dilakukan. Yang tidak boleh adalah salat dan membaca Al-Qur’an secara tilawah biasa. Namun ada pengecualian untuk yang sedang mengajar atau menjaga hafalan, dengan catatan dibaca terpatah-patah dan tidak dengan suara jahr (keras).

Adapun yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak zikir tanpa batas. Ustadz Adi kemudian mengajarkan beberapa zikir khusus:

Zikir di Tengah Malam (saat tarawih): “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku).

Zikir di Waktu Sahur: Perbanyak istighfar dengan “Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih” (Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya).

Untuk masalah berat, dibaca: “Allahumma la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin” (Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim). Doa ini adalah doa Nabi Yunus yang langsung dikabulkan Allah.

Pesan Penutup: Persiapan Mental dan Spiritual

Mengakhiri kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menekankan pentingnya mempersiapkan diri sejak sekarang. “Ramadhan adalah bulan penuh berkah di mana semua level iman disamakan oleh Allah. Yang jarang ke masjid pun bisa ke masjid, yang jarang ngaji bisa pegang mushaf. Ini mukjizat Al-Qur’an,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, “Pertanyaan besarnya adalah: apakah anugerah Allah ini dijaga sampai akhir Ramadhan? Untuk itu kita butuh bimbingan agar menjalani Ramadhan dengan nikmat, cara puasa yang benar, dan mendapatkan anugerah yang Allah janjikan.”

Kajian yang dihadiri ribuan jamaah ini ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah memberikan berkah di bulan Sya’ban dan kemampuan untuk mencapai serta beribadah dengan sempurna di bulan Ramadhan mendatang.

Bagi muslimah yang ingin menjalankan ibadah Ramadhan dengan benar sesuai tuntunan syariat, panduan komprehensif ini menjadi bekal penting untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan penuh kesungguhan dan pemahaman yang tepat.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________