PUNGGAWANEWS, Beberapa hari ini, media sosial ramai membicarakan sebuah video yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Bukan karena isu politik atau selebriti, tapi karena es gabus, jajanan masa kecil yang biasanya bikin kangen, kini malah bikin heboh. Dalam video itu, seorang pedagang es gabus dituduh menjual jajanan dari spons atau busa kasur.
Beberapa aparat terlihat memotong dan membakar potongan es itu, seolah sedang menangani barang bukti kejahatan serius. Pedagangnya hanya bisa diam. Video itu cepat menyebar, dan dalam hitungan jam, publik ikut bereaksi. Ada yang kaget, ada yang marah, tapi tak sedikit juga yang bertanya-tanya, benarkah itu spons?
Belakangan, setelah ditelusuri dan diuji, tuduhan itu terbukti keliru. Es gabus yang dijual ternyata benar-benar es gabus. Terbuat dari tepung hunkwe, santan, gula, dan pewarna makanan. Bukan dari bahan aneh apalagi berbahaya. Artinya, yang terjadi adalah kesalahan penilaian yang terlalu terburu-buru. Dan tentunya sangat merugikan si pedagang secara moral dan mungkin juga secara ekonomi. Dari kejadian sederhana ini, kita seolah diajak bercermin. Bukan cuma soal es gabusnya, tapi soal kebiasaan kita, yang terlalu cepat menilai, terlalu cepat menyebar, dan terlalu lambat memverifikasi.
Kasus ini mengajarkan kita pentingnya membaca. Bukan hanya membaca tulisan atau berita, tapi membaca situasi, membaca konteks, dan membaca lebih dalam sebelum bereaksi. Kita hidup di zaman serba cepat, di mana semuanya ingin segera disimpulkan dan langsung disebarkan. Padahal, dalam banyak hal, yang tampak belum tentu seperti yang sebenarnya.
Kita melihat makanan yang warnanya mencolok dan teksturnya kenyal, lalu langsung berpikir aneh dan berbahaya, tanpa memberi ruang untuk bertanya atau mencari tahu. Sama seperti kita sering menilai orang dari penampilan, pekerjaan, atau cara bicara, tanpa benar-benar mengenalnya.
Ada juga pelajaran tentang verifikasi. Bahwa sebelum menuduh, sebelum menindak, bahkan sebelum membuat konten, alangkah baiknya kita memastikan dulu. Mengambil sampel, menguji, berdiskusi. Bukan langsung bertindak seolah sudah tahu segalanya. Terkadang, rasa ingin cepat terlihat benar membuat kita jadi sembrono. Dan ketika salah, yang jadi korban bukan cuma reputasi kita, tapi orang lain yang tak bersalah.
Di sisi lain, kejadian ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya empati. Bayangkan apabila kita jadi si pedagang, yang selama belasan tahun jualan, tiba-tiba dituduh menipu pelanggan, dipojokkan di depan umum, dan direkam pula. Meskipun kemudian ada klarifikasi, luka di hati mungkin tak semudah itu sembuh. Dan masyarakat, yang semula ramai menonton, belum tentu kembali membeli. Di sinilah letak bahayanya asumsi. Ia bukan sekadar salah paham, tapi bisa mematikan sumber rezeki seseorang.
Es gabus mungkin terlihat sederhana. Tapi sekarang jadi pelajaran besar bagi kita yang sudah dewasa. Bahwa hidup tak selalu soal siapa yang paling cepat menanggapi, tapi siapa yang paling hati-hati dalam memahami. Bahwa tak semua yang kenyal itu spons, dan tak semua yang berbeda itu harus dicurigai.
Akhirnya, mungkin pelajaran paling penting dari kasus ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang menjadi manusia. Manusia yang tahu cara menahan diri, yang tak langsung menghakimi, yang bersedia bertanya sebelum menyalahkan. Karena dalam dunia yang serba cepat dan gaduh ini, kebijaksanaan kadang justru lahir dari mereka yang berani pelan. Pelan untuk membaca. Pelan untuk memahami. Dan pelan untuk menilai.
Oleh : Putri Awaliah
Mahasiswa Sastra UNHAS Makassar





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.