Ada juga pelajaran tentang verifikasi. Bahwa sebelum menuduh, sebelum menindak, bahkan sebelum membuat konten, alangkah baiknya kita memastikan dulu. Mengambil sampel, menguji, berdiskusi. Bukan langsung bertindak seolah sudah tahu segalanya. Terkadang, rasa ingin cepat terlihat benar membuat kita jadi sembrono. Dan ketika salah, yang jadi korban bukan cuma reputasi kita, tapi orang lain yang tak bersalah.

Di sisi lain, kejadian ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya empati. Bayangkan apabila kita jadi si pedagang, yang selama belasan tahun jualan, tiba-tiba dituduh menipu pelanggan, dipojokkan di depan umum, dan direkam pula. Meskipun kemudian ada klarifikasi, luka di hati mungkin tak semudah itu sembuh. Dan masyarakat, yang semula ramai menonton, belum tentu kembali membeli. Di sinilah letak bahayanya asumsi. Ia bukan sekadar salah paham, tapi bisa mematikan sumber rezeki seseorang.

Es gabus mungkin terlihat sederhana. Tapi sekarang jadi pelajaran besar bagi kita yang sudah dewasa. Bahwa hidup tak selalu soal siapa yang paling cepat menanggapi, tapi siapa yang paling hati-hati dalam memahami. Bahwa tak semua yang kenyal itu spons, dan tak semua yang berbeda itu harus dicurigai.

Akhirnya, mungkin pelajaran paling penting dari kasus ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang menjadi manusia. Manusia yang tahu cara menahan diri, yang tak langsung menghakimi, yang bersedia bertanya sebelum menyalahkan. Karena dalam dunia yang serba cepat dan gaduh ini, kebijaksanaan kadang justru lahir dari mereka yang berani pelan. Pelan untuk membaca. Pelan untuk memahami. Dan pelan untuk menilai.

Oleh : Putri Awaliah

Mahasiswa Sastra UNHAS Makassar

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________