PUNGGAWANEWS, Arab Saudi sedang menjalani perubahan besar dalam arah ekonominya. Sejak 2016, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), negara ini menggulirkan sebuah rencana ambisius bernama Vision 2030. Tujuan utamanya yaitu untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan membangun ekonomi yang lebih beragam. Selama ini, sebagian besar pendapatan negara datang dari sektor minyak. Tapi MBS menyadari bahwa dunia mulai beralih ke energi terbarukan, dan suatu hari nanti, minyak tidak lagi jadi primadona. Maka Arab Saudi pun mencoba mempersiapkan diri untuk masa depan yang berbeda.

Beberapa langkah konkret sudah dilakukan. Pemerintah mulai menerapkan PPN, mencabut sebagian subsidi, dan memaksa perusahaan swasta mempekerjakan warga lokal lewat kebijakan Saudization. Perempuan juga didorong masuk ke dunia kerja secara lebih luas. Di saat yang sama, negara ini mulai membangun sektor baru seperti pariwisata, hiburan, manufaktur, hingga pertambangan.

Beberapa proyek besar pun diluncurkan, seperti Qiddiya yaitu kota khusus hiburan dan olahraga, Red Sea Project yaitu destinasi wisata mewah, serta NEOM yaitu kota futuristik yang katanya akan netral karbon dan dihuni jutaan orang. Proyek NEOM bahkan punya sub-proyek paling ambisius bernama The Line, kota tanpa mobil dan tanpa polusi, yang dirancang memanjang hingga 170 km.

Namun pada 2024 ini, pemerintah mengumumkan penyesuaian besar, bahwa The Line tidak akan dibangun sepanjang 170 km. Versi realistis nya, hanya sekitar 2,4 km yang akan dibangun dan bisa dihuni dalam waktu dekat. Alasannya cukup masuk akal, dari sisi anggaran, tenaga kerja, hingga minat investor, semua menghadapi tantangan. Proyek NEOM secara keseluruhan pun diperkirakan tidak akan selesai pada 2030, melainkan bisa memakan waktu hingga dua dekade ke depan. Ini jadi pengingat bahwa membangun ekonomi baru tak semudah memutar keran minyak.

Dari sisi pemasukan negara, pendapatan non-migas memang mulai meningkat, tapi belum bisa menggantikan dominasi minyak. Menurut data IMF dan World Bank, lebih dari 60% anggaran Arab Saudi masih bergantung pada sektor minyak. Pariwisata dan hiburan mulai menghasilkan, apalagi sejak Arab Saudi mulai membuka diri terhadap konser, event olahraga internasional, hingga wisata sejarah dan religi. Tapi sampai hari ini, sektor-sektor itu masih dalam tahap tumbuh, bukan menopang.

Yang menarik, sebagian besar proyek megah Arab Saudi saat ini masih dibiayai dari Public Investment Fund (PIF), yakni dana negara yang bersumber dari hasil ekspor minyak. Artinya, proyek-proyek untuk melepaskan diri dari minyak justru masih memakai uang dari minyak. Ini menimbulkan pertanyaan penting, kalau nanti harga minyak anjlok atau cadangan habis sebelum ekonomi baru siap, bagaimana nasib negara ini?

Beberapa pihak membandingkan kondisi ini dengan negara-negara lain. Uni Emirat Arab dianggap sukses dalam diversifikasi ekonomi karena lebih gesit dan skalanya lebih kecil. Tapi Venezuela, misalnya, adalah contoh kegagalan dari terlalu bergantung pada minyak, dan ketika harga anjlok, ekonominya runtuh. Arab Saudi sedang berdiri di persimpangan ini, dan belum ada jaminan akan berakhir di sisi yang mana.

Meski begitu, Arab Saudi punya beberapa keunggulan. Mereka punya dana yang sangat besar, populasi muda yang tumbuh cepat, dan posisi geografis strategis untuk pariwisata dan logistik. Tapi semua itu hanya jadi potensi, bukan jaminan. Untuk bisa tetap kaya tanpa minyak, Arab Saudi harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya ahli ngebor, tapi juga bisa merancang, mengelola, dan mengeksekusi ekonomi modern yang kompleks.

Bisa atau tidaknya mereka tetap kaya setelah lepas dari minyak, akan sangat bergantung pada seberapa realistis mereka mengeksekusi rencana-rencana besar ini. Ambisi besar memang menarik di atas kertas, tapi hasil akhirnya ditentukan oleh ketekunan, konsistensi, dan kemampuan adaptasi. Transisi seperti ini bukan sekadar soal uang, tapi juga soal budaya, birokrasi, dan kemauan untuk berubah dari dalam.

Kalau boleh jujur, Arab Saudi memang sedang dalam posisi taruhan besar. Mereka punya semua alat untuk sukses, tapi juga semua risiko untuk gagal. Kalau berhasil, ini bisa jadi contoh spektakuler tentang bagaimana negara bisa bertransformasi secara total. Tapi kalau tidak, mereka mungkin akan kembali bergantung pada minyak, sementara dunia sudah terlanjur beralih ke energi yang lebih bersih.

Oleh : Muammar M. Hassan

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________