PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdul Fattah Shoh, mengungkapkan kesan mendalam pada Ramadan pertamanya di Tanah Air. Meskipun baru menjalankan tugas selama sebulan, diplomat senior ini mengaku tidak merasa asing menjalani bulan suci di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Fattah usai menghadiri Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Kementerian Agama. Kehadirannya dalam sidang yang menghadirkan sejumlah tamu VVIP ini menandai pengalaman pertamanya menyaksikan tradisi penetapan awal Ramadan di Indonesia.
“Saya baru satu bulan berada di Indonesia, tepatnya sebulan satu minggu (syahrun wahid). Ini merupakan Ramadan pertama saya di sini, dan langsung mendapat kehormatan diundang mengikuti sidang isbat,” ujar Abdul Fattah dalam wawancara khusus.
Kesamaan Tradisi Penetapan Ramadan
Duta besar yang baru menempati posnya ini menjelaskan bahwa metode penetapan awal Ramadan di Palestina memiliki kesamaan dengan Indonesia. Menurutnya, baik Palestina maupun Indonesia sama-sama menggunakan metode hisab—perhitungan tanggal dalam kalender Hijriah—dan rukyatul hilal atau pengamatan hilal dengan menggunakan teleskop.
“Di Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat, masyarakat juga menggunakan teropong untuk melihat hilal. Begitu hilal terlihat dan Ramadan diumumkan, orang-orang langsung bergembira dengan bertakbir dan berzikir,” paparnya mengenai tradisi yang berlangsung di tanah kelahirannya.
Kesamaan metode ini, menurut Abdul Fattah, semakin mempererat rasa persaudaraan antara kedua bangsa yang telah lama menjalin hubungan diplomatik.
Persiapan Ramadan yang Penuh Makna
Ditanya mengenai persiapannya menyambut bulan Ramadan di Indonesia, Duta Besar Palestina menyebutkan telah menyiapkan berbagai keperluan, termasuk kurma—buah khas yang menjadi tradisi untuk berbuka puasa.
“Kami sudah menyiapkan kurma dan berbagai kebutuhan lainnya untuk menjalani ibadah puasa,” jelasnya.
Yang menarik, Abdul Fattah menekankan bahwa meskipun fisiknya baru sebulan berada di Indonesia, secara emosional ia merasa sangat dekat dan tidak asing dengan negeri ini. Alasannya sederhana namun menyentuh.
“Saya tidak merasa asing di Indonesia karena saya merasa bahwa Indonesia dan Palestina adalah saudara. Kedekatan ini membuat saya merasa seperti di rumah sendiri,” tuturnya dengan penuh kehangatan.
Pernyataan Dubes Palestina ini mencerminkan hubungan historis dan emosional yang kuat antara Indonesia dan Palestina. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan aktif dalam berbagai forum internasional memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.
Kehadiran Abdul Fattah Shoh dalam Sidang Isbat juga menunjukkan apresiasi Kementerian Agama terhadap representasi diplomatik negara-negara sahabat, sekaligus memperkuat dimensi persaudaraan Islam antarbangsa dalam momen spiritual seperti Ramadan.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.