Summarize the post with AI
Ia juga mencatat penekanan Presiden Prabowo terhadap solidaritas dengan negara-negara Islam sebagai elemen penyeimbang dalam proses diplomasi tersebut. Dino mengapresiasi sikap hati-hati yang ditunjukkan Presiden, dengan tetap berpegang pada kepentingan nasional dan kesiapan mundur jika kebijakan tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai fundamental bangsa.
“Yang paling saya apresiasi dan sejalan dengan pandangan Foreign Policy Community of Indonesia adalah pendekatan kehati-hatian kita, dengan tetap memegang opsi untuk mundur bila ini berlawanan dengan prinsip dan kepentingan kita,” tandasnya.
Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyoroti pentingnya tahapan konsultasi yang ditempuh Indonesia sebelum memutuskan bergabung. Menurutnya, keputusan ini diambil setelah melalui pembahasan mendalam dengan negara-negara mayoritas Islam.
“Keikutsertaan kita dalam Board of Peace ini melalui dua tahap konsultasi di antara negara-negara mayoritas Islam,” jelas Hassan.
Hassan menjelaskan bahwa delapan negara tersebut dapat menjadi kekuatan pengimbang dalam mekanisme pengambilan keputusan di Board of Peace, sekaligus memastikan proses tetap berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Hassan juga menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak selalu harus melalui kerangka PBB, dengan merujuk pada berbagai preseden diplomasi internasional sebelumnya.
“Dengan demikian, kita tidak perlu berprasangka buruk. Ada proses di luar kerangka PBB dan itu tidak harus ditafsirkan secara negatif, selama menghasilkan sesuatu yang positif,” katanya.
Hassan menilai pertemuan dengan Presiden Prabowo memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang Board of Peace, termasuk keleluasaan Indonesia dalam menentukan kelanjutan keterlibatannya.
“Kita memiliki kedaulatan penuh untuk memutuskan apakah akan melanjutkan atau tidak, bergantung pada apakah proses ini berjalan sesuai dengan tujuan utama kita, yaitu membantu rakyat Palestina,” pungkas Hassan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.