Summarize the post with AI
Relevansi angka-angka itu semakin terasa ketika Mu’ti menyinggung ancaman krisis minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Dalam skenario lonjakan harga energi, kendaraan bermotor menjadi beban yang semakin berat, sementara sepeda dan berjalan kaki justru menjadi pilihan yang tidak terpengaruh sama sekali oleh fluktuasi harga BBM.
Namun perubahan kebiasaan tidak pernah semudah imbauan. Mu’ti sendiri mengakui tantangan nyata di lapangan: minimnya transportasi publik yang layak, infrastruktur jalan yang tidak bersahabat bagi pesepeda, tekanan lingkungan sosial, hingga persepsi kepraktisan yang sudah lama menempel pada budaya berkendara. Berbeda dari Jepang, di mana sistem kota, sekolah, dan transportasi publik saling menopang satu sama lain, di Indonesia pilihan individu sering kali harus berhadapan dengan lingkungan yang tidak mendukung.
Pengalaman berbagai negara Asia menunjukkan satu pelajaran yang konsisten: kebiasaan bersepeda ke sekolah bukan lahir dari kemauan individu semata, melainkan dari desain sistem yang memungkinkannya. Indonesia sebenarnya pernah mengenal budaya itu. Namun dalam beberapa dekade terakhir, arah pembangunan justru bergerak ke sebaliknya, mempertebal ketergantungan pada kendaraan bermotor.
Kini, ketika krisis energi mengetuk pintu, imbauan untuk kembali ke sepeda dan jalan kaki bukan lagi romantisme masa lalu. Ia menjadi kebutuhan yang mendesak. Pertanyaan yang sesungguhnya bukan apakah pelajar Indonesia mampu bersepeda ke sekolah, melainkan apakah sistem yang ada mau dan mampu memberi mereka ruang untuk melakukannya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.