Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS — Dalam catatan sejarah Islam, terdapat kisah yang melampaui sekadar peristiwa biografis. Ini adalah narasi tentang seorang manusia yang hidupnya sepenuhnya dipersembahkan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh umat yang mencintainya bahkan sebelum dan sesudah ia tiada.
Setiap nabi diberi satu doa istimewa yang dapat dikabulkan Tuhan. Nabi Sulaiman AS memohon kerajaan yang tak tertandingi. Nabi Zakaria AS memohon keturunan di usia senjanya. Namun Nabi Muhammad SAW memilih jalan yang berbeda. Beliau menyimpan doa itu, menepikannya dari kebutuhan pribadi dan keluarga, demi satu tujuan yang jauh lebih besar: menjadi perantara bagi umatnya di hari kiamat. Dalam hatinya, sebelum kepentingan dirinya sendiri, selalu ada kita.
Haji Terakhir yang Tak Terduga
Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah SAW mulai mempersiapkan ibadah haji. Ribuan Muslim dari Madinah dan suku-suku sekitarnya berdatangan dengan suka cita, tidak menyadari bahwa ini adalah haji terakhir sang Nabi. Pada 25 Dzulqa’dah, kafilah berjumlah 40.000 orang bertolak dari Madinah. Sesampainya di Makkah pada 4 Dzulhijjah, jumlah mereka telah membengkak menjadi lebih dari 100.000 jiwa dari berbagai penjuru Jazirah Arab.
Peristiwa ini menjadi momen yang luar biasa mengharukan. Sepuluh tahun sebelumnya, Rasulullah SAW terpaksa meninggalkan Makkah hanya berdua bersama Abu Bakar. Kini beliau kembali dalam kepungan puluhan ribu umat yang mencintainya. Bukan karena kekuatan pedang, melainkan karena kekuatan hati yang telah ditaklukkan oleh cahaya Islam.
Khotbah Perpisahan di Padang Arafah
Di lembah Arafah, pada hari ke-9 Dzulhijjah, di atas untanya yang bernama Qaswa, Rasulullah SAW menyampaikan Khotbah Perpisahan. Beliau membuka pidatonya bukan dengan seruan “wahai umat Islam”, melainkan “wahai manusia” — sebuah sapaan yang melampaui batas zaman dan tempat, ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat.
Dalam khotbah itu, beliau berbicara tentang penghapusan riba, perlindungan hak-hak perempuan, dan pernyataan tegas menentang rasisme: bahwa tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, tidak ada kelebihan kulit putih atas kulit hitam. Kemuliaan hanya ditentukan oleh ketakwaan kepada Allah. Beliau menitipkan dua pusaka: Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Sore itu, saat wahyu turun di atas punggung Qaswa, wajah Rasulullah SAW berubah dan keringat mengalir di dahinya. Ketika situasi berlalu, beliau membacakan ayat yang baru saja diturunkan: bahwa agama Islam telah disempurnakan dan nikmat Allah telah dicukupkan. Di antara lebih dari 100.000 orang yang bersuka cita, hanya Abu Bakar yang menangis. Ia memahami bahwa ayat itu bukan kabar gembira semata — itu adalah isyarat perpisahan.
Transformasi Dua Dekade
Sebelum memasuki peristiwa wafat, perlu dicatat betapa luar biasanya perubahan yang terjadi selama 23 tahun dakwah Rasulullah SAW. Seluruh Jazirah Arab, yang dulunya dikuasai penyembahan berhala dan konflik antarsuku, telah berubah wajah. Delegasi dari berbagai wilayah Arab berdatangan memeluk Islam. Sistem zakat yang diterapkan begitu efektif hingga dalam beberapa tahun, kemiskinan di beberapa daerah nyaris terhapus. Muadz bin Jabal pernah mengumpulkan zakat di Yaman, namun tak menemukan satu pun orang yang berhak menerimanya — tanda bahwa masyarakat telah sejahtera secara merata.
Tiga Belas Hari Terakhir
Kembali dari haji, pada tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah SAW jatuh sakit dengan demam yang semakin hari semakin parah. Dalam kondisi lemah itu, beliau masih memikirkan umatnya. Ketika Malaikat Jibril bertanya mengapa beliau menangis, jawabnya hanya satu: “Umatku, wahai Jibril. Aku khawatir tentang mereka.”
Di hari-hari itu pula, beliau meminta Abu Bakar memimpin shalat — sebuah isyarat kepemimpinan yang tak terucap secara eksplisit namun dipahami oleh para sahabat. Beliau juga memanggil putri kesayangannya, Fatimah, dan membisikkan dua hal kepadanya. Yang pertama membuat Fatimah menangis — bahwa sang ayah akan segera pergi. Yang kedua membuatnya tersenyum — bahwa di antara keluarga, Fatimahlah yang pertama akan menyusulnya. Dan memang demikianlah yang terjadi. Enam bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW, Fatimah pun menyusul sang ayah tercinta.
Senin Pagi yang Mengubah Dunia
Hari itu adalah hari Senin. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, dan pada hari Senin pula beliau meninggalkan dunia. Pagi itu, melalui jendela kamarnya, untuk terakhir kalinya beliau menyaksikan para sahabat berdiri bahu-membahu dalam shaf shalat Subuh yang dipimpin Abu Bakar. Wajahnya memancarkan kebahagiaan melihat mereka — orang-orang yang telah ia didik dari kegelapan Jahiliyah menuju cahaya iman.
Lalu dengan bibir yang hanya bergerak pelan, beliau mengulang dua kalimat: “Ya Tuhan, jadikan aku bersama Ar-Rafiq Al-A’la” — mohon dipertemukan dengan Sahabat Yang Maha Tinggi — dan “Shalat… shalat…” seolah wasiat terakhir agar umatnya tidak meninggalkan tiang agama itu. Kemudian, dalam usia 63 tahun, Rasulullah SAW menutup mata untuk selamanya.
Madinah Berduka, Abu Bakar Berdiri Teguh
Kabar wafatnya Rasulullah SAW mengguncang Madinah. Umar bin Khattab menolak mempercayainya, menghunus pedang sambil berteriak bahwa Nabi masih hidup. Ali bin Abi Thalib berdiri membatu, matanya penuh air mata. Utsman terdiam. Seluruh kota larut dalam duka yang tak terbendung.
Di tengah kekacauan itu, Abu Bakar tampil sebagai gunung yang teguh. Ia masuk ke kamar Rasulullah, mencium kening sang Nabi, lalu keluar dan menukil firman Allah bahwa Muhammad hanyalah seorang utusan yang juga akan pergi, dan bahwa Allah adalah Dzat yang hidup dan tidak akan pernah mati. Satu kalimat itu menenangkan ribuan hati yang hancur.
Keesokan harinya, tibalah waktu Zuhur. Bilal bin Rabah, muazin setia Rasulullah SAW, naik untuk mengumandangkan azan sebagaimana biasa. Namun ketika ia sampai pada kalimat syahadat — “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” — tenggorokannya tercekat. Suaranya bergetar dan pecah. Ia tidak mampu melanjutkan. Seluruh Madinah menangis bersamanya. Bilal akhirnya menyatakan tidak sanggup lagi mengumandangkan azan di kota yang setiap sudutnya mengingatkannya kepada Rasulullah. Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Syam.
Warisan yang Tak Ternilai
Jenazah Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib. Saat proses pemandian berlangsung, semerbak wangi kasturi yang belum pernah tercium sebelumnya tersebar di ruangan. Atas keputusan Abu Bakar, beliau dikebumikan di kamar Aisyah, di tempat beliau wafat.
Beliau tidak meninggalkan harta. Bahkan baju perangnya masih tergadai kepada seorang pria Yahudi sebagai jaminan jelai untuk memberi makan keluarganya. Namun beliau meninggalkan dua warisan yang nilainya tak tertandingi oleh apapun di dunia ini: Al-Qur’an dan Sunnah.
Ia telah menunaikan tugasnya. Kini panji itu ada di tangan kita.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.