Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, Idul Fitri kembali tiba. Takbir bergema, ketupat tersaji, dan pelukan saling terulur. Tapi sebelum larut dalam euforia kemenangan satu bulan, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri — dari mana sebenarnya kita datang, dan ke mana kita sedang berjalan?

Perjalanan sejarah peradaban Islam menyimpan satu pelajaran yang terus-menerus diulang: manusia selalu tergoda untuk menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan alat. Dan dalam jebakan itu, yang sering menjadi korban pertama adalah kejujuran terhadap diri sendiri.

Ketika “Yang Paling Sah” Jadi Perebutan

Di abad ke-10 Masehi, dunia Islam memiliki tiga khalifah sekaligus. Abbasiyah di Baghdad, Umayyah di Cordoba, dan Fatimiyah yang baru saja berdiri di Afrika Utara. Masing-masing mengklaim dirinya paling sah. Masing-masing membangun narasi legitimasi yang meyakinkan — silsilah, teologi, militer, dan kharisma. Rakyat? Menjadi penonton setia drama elite yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dinasti Fatimiyah resmi berdiri tahun 909 M. Ketika Abbasiyah belum tumbang tapi sudah mulai seperti kerajaan besar yang sibuk mengurus internal, muncullah Ubaidillah Al-Mahdi Billah dengan penuh percaya diri mengumumkan diri sebagai khalifah. Bukan sekadar penguasa lokal — langsung naik kelas. Namanya Fatimiyah diambil dari Fatimah az-Zahra, karena mereka mengklaim garis keturunan langsung dari jalur Ali dan Fatimah. Klaim ini bukan sekadar urusan silsilah keluarga, tapi senjata politik. Karena dalam dunia yang sangat religius, legitimasi bukan hanya soal kekuatan militer, tapi juga soal siapa yang paling sah secara spiritual.

Tahun 969 M, di bawah Khalifah Al-Mu’izz Lidinillah dan jenderalnya Jauhar al-Siqilli, Mesir ditaklukkan. Bukan sekadar menang perang — langsung dibangun ibu kota baru: Al-Qahirah, yang artinya “yang menaklukkan.” Dan di kota baru itu, mereka membangun sesuatu yang efeknya terasa lebih dari seribu tahun kemudian — Universitas Al-Azhar.

Yang menarik bukan siapa yang menang, melainkan apa yang tersisa. Kekhalifahan silih berganti. Istana-istana runtuh. Nama-nama besar dilupakan. Tapi Al-Azhar — yang lahir dari rahim satu dinasti, sempat diredupkan, lalu dihidupkan kembali oleh musuh ideologinya — tetap berdiri. Karena ilmu tidak berpihak. Ilmu tinggal.

Ramadan: Latihan Melawan Diri Sendiri

Ramadan yang baru saja kita lalui sebenarnya adalah latihan untuk melawan musuh yang paling dekat dan paling licik — diri kita sendiri. Bukan musuh di luar tembok, tapi ambisi yang bersemayam di dalam dada. Rasa ingin menang. Dorongan untuk merasa paling sah. Kecenderungan untuk membenarkan diri sambil menyalahkan orang lain.

Ubaidillah Al-Mahdi datang dengan klaim silsilah yang kokoh dan visi yang jelas. Tapi sejarah mencatat, bukan klaim itulah yang membuat warisannya bertahan — melainkan institusi yang dibangunnya. Ya’qub bin Killis, seorang mantan Yahudi dari Baghdad yang jadi arsitek sistem pendidikan Al-Azhar, tidak mendapat kepercayaan dari darah keturunan. Ia mendapat kepercayaan dari kemampuan dan ketulusannya. Bahkan Khalifah Al-Aziz Billah pernah berkata rela mengorbankan harta negara demi menyelamatkan Ibnu Killis. Karena kalau dia hilang, sistem ikut mati.

Di sinilah Idul Fitri berbicara kepada kita: setelah sebulan ditempa, siapakah kita sesungguhnya? Masihkah kita yang sama — yang mengukur diri dari jabatan, pengakuan, dan tepuk tangan? Atau sudah ada pergeseran kecil ke arah yang lebih sunyi dan lebih bermakna?

Sejarah yang Berulang, Pilihan yang Berbeda

Kalau sejarah memang hanya ganti kostum, maka kita yang hidup hari ini sedang memakai kostum era kita masing-masing. Ada yang mengenakan jas dan mikrofon, ada yang berseragam almamater, ada yang berdiri di balik layar dengan jari-jari di atas keyboard. Semua punya panggungnya sendiri. Semua punya godaan untuk menjadi “yang paling sah.”

Salahuddin Al-Ayyubi menutup era Fatimiyah bukan dengan kekerasan berlebihan, tapi dengan cara yang elegan tapi tegas. Setelah wafatnya khalifah terakhir Al-Adid pada 1171 M, ia mengambil alih Mesir tanpa drama panjang, tanpa voting. Tapi ia tidak membakar Al-Azhar. Ia membiarkannya hidup kembali. Mungkin karena ia paham: yang perlu dihentikan adalah kekuasaan yang salah arah, bukan ilmu yang tak berdosa.

Tapi Idul Fitri bukan perayaan kemenangan ego. Ia adalah perayaan kemenangan jiwa atas ego. Kemenangan yang tidak dirayakan dengan teriakan keras, melainkan dengan sujud yang dalam. Kemenangan yang tidak dibuktikan dengan menunjukkan musuh yang kalah, tapi dengan memeluk orang yang selama ini kita jauhi.

Kita semua punya “Fatimiyah” dalam diri kita — klaim-klaim internal yang kita pegang erat: Aku yang paling tahu. Aku yang paling benar. Aku yang paling berhak. Ramadan mengajarkan kita untuk meragukan klaim-klaim itu. Idul Fitri mengajak kita untuk melangkah ke depan dengan tangan terbuka, bukan kepalan yang tertutup.

Membangun Al-Azhar Versi Kita

Al-Azhar tidak dibangun dalam semalam. Ia dimulai dari satu masjid, berkembang menjadi ruang belajar, lalu melampaui ideologi pendirinya sendiri. Lahir sebagai pusat Syiah Ismailiyah, ia akhirnya menjadi mercusuar keilmuan Sunni terbesar di dunia. Sebuah ironi sejarah yang indah — bukti bahwa ilmu bisa melampaui kepentingan politik siapapun yang membangunnya.

Setiap dari kita bisa membangun “Al-Azhar” versi kita sendiri. Kebaikan kecil yang kita tanamkan dengan ikhlas, tanpa perlu nama kita terukir di atasnya. Seorang ibu yang dengan sabar mengajarkan anak membaca. Seorang guru yang hadir bukan untuk gaji, tapi untuk memastikan ada nyala di mata muridnya. Seorang pekerja yang jujur di tengah sistem yang korup. Mereka semua sedang membangun sesuatu yang mungkin tidak akan disebutkan dalam buku sejarah, tapi akan dirasakan oleh generasi yang belum lahir.

Lebih banyak yang bisa kita ubah dari dalam diri kita sendiri daripada yang pernah kita bayangkan. Dan lebih sedikit yang bisa kita ubah dari luar sana daripada yang kita harapkan.

Maka di hari yang fitri ini, mari kita pulang — bukan hanya ke kampung halaman, tapi ke diri kita yang paling asli. Yang belum terluka oleh ambisi. Yang masih percaya bahwa kebaikan tidak perlu viral. Yang ingat bahwa kemenangan paling manis bukan yang disaksikan oleh banyak orang, tapi yang diketahui oleh Tuhan dan oleh hati nurani kita sendiri.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Selamat Idul Fitri 1447 H. Minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________