Summarize the post with AI
Bersama sejumlah rekan sesama mantan anggota geng motor yang turut memilih jalan hijrah, Saiful kemudian berinisiatif mendirikan tempat ibadah. Mereka memilih lokasi yang penuh simbolisme: kolong jembatan tol di kawasan Buah Batu yang sebelumnya terkenal sebagai tempat berkumpulnya preman, warung liar, dan berbagai aktivitas yang bertentangan dengan norma masyarakat.
Kawasan di bawah Jembatan Tol BJTB Padalarang-Cileunyi tersebut memang memiliki reputasi buruk. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “sarang” atau tempat yang sebaiknya dihindari, terutama saat gelap. Dalam bahasa Sunda, warga setempat kerap menyebutnya sebagai tempat “aing mah preman” – ungkapan yang mencerminkan betapa berbahayanya lokasi tersebut di mata publik.
Kondisi area tersebut memang memprihatinkan. Minimnya pencahayaan bahkan di siang hari, ditambah banyaknya bangunan semipermanen yang kumuh, menjadikan kawasan ini tempat yang asing bagi warga biasa. Orang-orang enggan melintas, apalagi singgah di lokasi yang identik dengan tindak kriminal.
Namun, di tangan Saiful dan kawan-kawannya, kawasan yang dulunya gelap gulita itu perlahan mulai berubah wajah. Pembangunan masjid bukan sekadar mendirikan tempat ibadah, tetapi juga simbol transformasi dan harapan. Dari tempat yang dulunya menjadi ajang maksiat, kini muncul bangunan suci yang mengumandangkan azan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.