PUNGGAWANEWS, KHAZANAH ISLAM – Di tengah hamparan gurun New Mexico, tempat tanah merah menyatu dengan langit tanpa batas, berdiri sebuah komunitas yang nyaris tak dikenal banyak orang di Amerika Serikat. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan panasnya dinamika politik, terdapat sebuah desa Muslim bernama Dar Al-Islam—yang berarti Rumah Islam. Dikelilingi dataran tinggi, pepohonan juniper, dan cakrawala terbuka, tempat ini menjadi simbol ketenangan, iman, dan keteguhan identitas Muslim di Amerika.

Dar Al-Islam bukan sekadar lokasi fisik, melainkan kisah tentang Islam yang berakar di tanah Amerika—beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa kehilangan ruhnya. Desa ini didirikan pada awal 1980-an di Abiquiú, New Mexico, sebuah kawasan yang dikenal dengan suasana spiritual dan lanskap gurunnya yang dramatis. Visi pendiriannya adalah membangun komunitas Islam yang damai, mampu menjaga nilai-nilai tradisional Islam sekaligus hidup selaras dalam masyarakat Amerika.

Arsitektur yang Membumi dan Spiritual

Di jantung Dar Al-Islam berdiri sebuah masjid dengan gaya arsitektur Afrika Utara dan Andalusia. Dindingnya berwarna tanah, menyatu dengan lanskap gurun sekitarnya. Tidak ada menara menjulang tinggi atau kubah megah. Sebaliknya, bangunannya mencerminkan kerendahan hati, keseimbangan, dan fokus spiritual—sebuah ekspresi Islam yang berbicara lembut, namun mendalam.

Tempat ini dirancang sebagai ruang refleksi, pembelajaran, ibadah, dan kehidupan keluarga. Ritme kehidupan berjalan perlahan, mengikuti waktu salat dan pergerakan matahari. Azan yang menggema di tengah sunyinya gurun menjadi penanda kehidupan yang dijalani dengan kesadaran dan ketenangan.

Komunitas di Antara Dua Dunia

Penduduk Dar Al-Islam berasal dari latar belakang yang beragam: mualaf Amerika, imigran Muslim, keluarga muda, hingga anak-anak yang tumbuh di antara dua dunia—tradisi Islam dan realitas kehidupan Amerika. Pada masa kejayaannya, kawasan ini mencakup lahan sekitar 8.600 hektare, terdiri dari pegunungan, masjid, sekolah, rumah-rumah tanah liat, serta ladang dan kebun.

Menariknya, keberadaan Dar Al-Islam hampir tak diketahui oleh sebagian besar masyarakat Amerika, bahkan oleh banyak Muslim sendiri. Komunitas ini didirikan pada 1979 oleh Nuruddin Durkee, seorang mualaf Amerika, bersama Syekh Abul Hasan Ali Nadwi? (ops—transkrip menyebut Sah Kabani, pengusaha Saudi) dan Abdullah Omar Nasseef, mantan Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim. Pembangunannya melibatkan tangan-tangan penduduk asli Amerika, komunitas Pueblo, serta Muslim dari Mesir, Nubia, dan Eropa.

Para pendiri membayangkan sebuah tempat unik: ruang bagi Muslim Barat untuk membesarkan anak-anak mereka, mempelajari agama, dan menjalani hidup sederhana tanpa harus meninggalkan negaranya. Dar Al-Islam sejak awal tidak dimaksudkan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai desa Islam yang utuh—lengkap dengan rumah tinggal, madrasah, kebun, dan pertanian.

Dari Impian Besar ke Ketahanan Sunyi

Selama bertahun-tahun, visi tersebut sempat terwujud. Keluarga-keluarga menetap, para ulama datang dari berbagai belahan dunia, dan kegiatan pendidikan berkembang pesat. Pada puncaknya, lembaga ini mendidik sekitar 60 siswa dengan tujuh guru penuh waktu serta beberapa pengajar paruh waktu.

Namun perlahan, tantangan muncul. Keluarga-keluarga mulai pindah, sumber pendanaan menyusut, dan impian membangun desa Muslim sepenuhnya di Amerika mulai memudar. Pada awal 1990-an, proyek ini mengalami gesekan internal. Meski tak pernah sepenuhnya mencapai cita-cita awalnya, Dar Al-Islam tetap bertahan sebagai pusat pendidikan dan spiritual.

Pusat Pembelajaran dan Refleksi

Hingga hari ini, Dar Al-Islam masih aktif menyelenggarakan pengajian, kemah keagamaan, dan program pendidikan bagi Muslim serta masyarakat umum. Peserta datang untuk berbagai pengalaman—mulai dari refleksi pribadi dalam keheningan gurun hingga pembelajaran terstruktur tentang ajaran dan budaya Islam.

Pendekatan yang diusung bersifat spiritual-alamiah, mengajak pengunjung mendekatkan diri kepada Tuhan melalui kontemplasi dan interaksi dengan alam. Program-program keluarga dikombinasikan dengan kegiatan luar ruang seperti pendakian di formasi batu pasir putih Plaza Blanca, lokakarya bersama ulama tamu, serta kegiatan khusus bagi generasi muda. Semua dirancang untuk menumbuhkan iman dan memperkuat ikatan keluarga.

Islam di Amerika: Identitas yang Hidup

Kisah Dar Al-Islam tidak dapat dilepaskan dari sejarah Islam di Amerika Serikat. Islam bukanlah agama baru di benua ini. Sejak awal, Muslim telah hadir—sebagian datang sebagai budak Afrika yang mempertahankan iman mereka secara tersembunyi, sementara yang lain bermigrasi secara bebas pada abad-abad berikutnya. Kini, lebih dari 3,5 juta Muslim hidup di seluruh Amerika Serikat.

Mereka berasal dari beragam latar belakang etnis dan budaya: Afrika, Arab, Asia Selatan, Latin, Eropa, hingga penduduk asli. Mereka adalah dokter, sopir taksi, tentara, guru, seniman, dan wirausahawan—terintegrasi dalam kehidupan Amerika modern. Lebih dari 3.500 masjid dan pusat Islam berdiri di seluruh negeri, dan Islam dijalani secara terbuka dalam keseharian.

Ruang Sunyi di Tengah Dunia yang Bising

Dalam konteks itulah Dar Al-Islam menemukan perannya hari ini. Ia bukan lagi desa yang dihuni sepenuhnya, melainkan ruang sunyi—tempat menjauh sejenak dari kesibukan dunia, memperdalam iman, dan memperkaya kehidupan spiritual Muslim Amerika. Di tengah gurun yang hening, Dar Al-Islam terus mengingatkan bahwa iman dapat tumbuh subur, bahkan di tanah yang tampak paling gersang sekalipun.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________