PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menyatakan kesiapannya untuk mengekspor beras dan jagung pada tahun ini, seiring tercapainya swasembada kedua komoditas pangan strategis tersebut. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mulai bersiap berkontribusi pada ketahanan pangan global.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa secara operasional, Bulog telah siap melaksanakan ekspor. Namun, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menunggu informasi peluang dan kebutuhan negara tujuan melalui koordinasi resmi antarpemerintah.

“Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi negara mana yang akan kita ekspor tersebut,” ujar Rizal saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (11/1/2026), seperti dikutip dari Antara.

Rizal mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi ketat terkait rencana ekspor, terutama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebagai institusi yang memiliki kewenangan dalam komunikasi dagang antarnegara.

Bulog memprioritaskan peluang ekspor ke negara-negara tetangga serta negara yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan, termasuk wilayah yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.

“Kami tidak akan asal ekspor. Kami akan memastikan bahwa ekspor ini benar-benar membantu negara yang membutuhkan, dan tidak mengganggu ketersediaan pangan di dalam negeri,” tegasnya.

Meski bersiap untuk ekspor, Bulog tetap memfokuskan penguatan penyerapan dalam negeri dengan target pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton sepanjang tahun 2026.

Pada semester pertama, Bulog menargetkan penyerapan minimal 3 juta ton, memanfaatkan momentum puncak panen nasional yang secara historis terjadi pada periode tersebut. Rizal optimistis target penyerapan semester pertama dapat tercapai bahkan di atas 3 juta ton, sepanjang panen berjalan lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem atau faktor penghambat lainnya.

“Kalau cuaca mendukung dan tidak ada gangguan, kami yakin bisa serap lebih dari 3 juta ton di semester pertama,” katanya.

Sementara itu, sisa target penyerapan sekitar 1 juta ton direncanakan pada semester kedua, sehingga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan rencana ekspor tetap terjaga.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog telah menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton. Namun, mayoritas produksi tetap difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, mengingat stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjadi prioritas utama pemerintah.

“Ekspor itu penting, tapi kebutuhan rakyat kita lebih penting. Jadi kami pastikan dulu kebutuhan domestik terpenuhi, baru sisanya bisa kita ekspor,” ujar Rizal.

Hingga awal Januari 2026, Bulog mengelola 3,25 juta ton stok cadangan beras pemerintah. Stok ini merupakan peralihan dari sisa cadangan pada tahun 2025, yang menunjukkan bahwa pemerintah memiliki buffer stock yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional.

Dengan stok yang cukup besar ini, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan ekspor tanpa mengganggu pasokan domestik, sekaligus membantu petani dalam negeri mendapatkan harga yang lebih baik melalui mekanisme penyerapan yang optimal.

Swasembada: Dari Impor ke Ekspor

Pencapaian swasembada beras dan jagung ini merupakan capaian penting bagi Indonesia, yang selama bertahun-tahun bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Kini, dengan surplus produksi, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi eksportir pangan di kawasan regional maupun global.

Langkah ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia (world food basket), terutama di tengah ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim dan konflik geopolitik.

Meski optimisme tinggi, Rizal mengingatkan bahwa tantangan ke depan tetap ada, terutama terkait cuaca ekstrem yang dapat mengganggu jadwal panen. Oleh karena itu, Bulog terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan instansi terkait untuk memantau kondisi cuaca dan memberikan dukungan kepada petani.

“Kami terus pantau perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan. Kalau ada potensi gangguan, kami siap ambil langkah antisipasi,” pungkasnya.

Dengan kesiapan operasional yang matang, koordinasi antarlembaga yang solid, dan stok cadangan yang memadai, Bulog optimistis dapat menjalankan dual track policy: memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka peluang ekspor untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar pangan global.

Sumber: Perum Bulog, Antara

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________