Summarize the post with AI
Bulan Ramadan tahun 58 Hijriah, di usia 66 tahun, panggilan pulang itu tiba. Ibnu Abbas datang menjenguk dan memujinya sebagai istri yang paling dicintai Rasulullah, wanita yang kesuciannya diturunkan langsung dari atas tujuh langit. Mendengar pujian itu, Aisyah justru menangis tersedu-sedu dan meminta Ibnu Abbas menghentikannya. Ia berkata bahwa ia hanya berharap dirinya adalah sesuatu yang terlupakan dan tidak berarti. Wanita yang dijamin surga ini pergi dengan membawa hati yang kerdil di hadapan Tuhannya, tanpa sedikit pun rasa angkuh atas kesucian yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.
Dalam wasiat terakhirnya, Aisyah menolak dimakamkan di kamarnya bersama Rasulullah dan Abu Bakar meski masih ada satu tempat kosong di sana. Ia memilih dimakamkan bersama istri-istri Nabi yang lain di Baqi’, di malam hari, tanpa orang banyak, tanpa kemewahan. Ia ingin pergi sebagai Aisyah hamba Allah, bukan Aisyah tokoh besar sejarah. Namun Madinah tidak bisa tidur malam itu. Ribuan orang mengalir membawa obor menuju pemakaman, menciptakan sungai cahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Madinah.
Aisyah telah pergi, namun ia sesungguhnya tidak pernah mati. Setiap hadis yang diriwayatkannya, setiap hukum yang ditetapkan berdasarkan kesaksiannya, setiap momen kelembutan Nabi yang hanya ia ketahui dan ia bagikan kepada umat, semuanya terus mengalir melampaui batas waktu. Ia adalah bukti nyata bahwa perempuan dalam Islam bukanlah warga kelas kedua, melainkan pilar penyangga wahyu yang kecerdasannya melampaui zaman dan cintanya melampaui kematian.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.