Summarize the post with AI
Untuk memperkuat kritiknya, Dedi Mulyadi menyoroti perbandingan ironis antara era penjajahan Belanda dengan masa kemerdekaan Indonesia. Ia menyebut, setelah 350 tahun dijajah Belanda, gunung-gunung masih utuh, samudra terbentang luas, sungai jernih, dan Belanda meninggalkan infrastruktur yang kokoh seperti bangunan indah dan jembatan kereta api yang kuat. Sebaliknya, setelah 80 tahun merdeka, kondisi yang terjadi adalah: gunung gundul, sungai keruh, hutang menggunung, dan bangunan serta jalanan mudah rusak.
Mewakili keresahan generasi muda yang mulai menggugat di media sosial, Dedi Mulyadi kemudian melontarkan pertanyaan keras: “Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?”
Ia menutup pidatonya dengan menyoroti kebiasaan buruk bangsa Indonesia. Kebiasaan ini adalah ribut melakukan perbaikan hanya saat terjadi bencana, namun kembali lupa dan berbuat kerusakan saat musim kemarau tiba. Menurut Dedi Mulyadi, secara hitungan ekonomi, keuntungan dari pembabatan hutan dan pengambilan sumber daya alam tidak sebanding sama sekali dengan kerugian puluhan hingga ratusan triliun rupiah yang harus dikerahkan saat bencana alam melanda. Indonesia, katanya, sedang merugi karena ulah sendiri.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.