Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyorot satu hal yang selama ini kerap luput dari perhatian global: kemampuan militer Iran yang berkembang signifikan meski berada di bawah tekanan embargo Barat selama lebih dari empat dekade. Serangkaian serangan rudal dan drone yang dikaitkan dengan Iran dalam konflik regional terbaru menjadi bukti nyata bahwa isolasi ekonomi tidak sepenuhnya melumpuhkan daya tahan sebuah negara.

Bahkan, dinamika ini disebut mengejutkan sejumlah pihak di Barat, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menilai tekanan ekonomi akan membatasi kapasitas militer Teheran. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: Iran justru mampu membangun salah satu arsenal rudal terbesar di kawasan Timur Tengah.

Akar Historis: Revolusi dan Trauma Perang

Fondasi kekuatan militer Iran saat ini tidak dapat dilepaskan dari dua peristiwa besar dalam sejarahnya, yakni Revolusi Islam Iran 1979 dan Perang Iran-Irak.

Pasca revolusi 1979, hubungan Iran dengan negara-negara Barat memburuk drastis. Akses terhadap teknologi dan persenjataan, terutama dari Amerika Serikat, terputus. Ketergantungan Iran terhadap sistem militer impor pun berubah menjadi kerentanan strategis.

Situasi ini semakin diperparah saat Perang Iran-Irak berlangsung. Serangan rudal Irak ke wilayah sipil Iran, tanpa kemampuan balasan yang memadai dari Teheran, meninggalkan trauma mendalam. Dari titik inilah lahir doktrin pertahanan Iran: kemandirian militer adalah keharusan, bukan pilihan.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________