Summarize the post with AI
Mendengar penjelasan itu, Umar mengangkat wajahnya dan berucap lirih, “Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melesetkan firasatku tentangmu, wahai Said.”
Seribu Dinar yang Dianggap Musibah
Umar kemudian mengirimkan seribu dinar kepada Said sebagai bentuk perhatian dan bantuan dari negara. Ketika utusan Umar tiba membawa kantong berisi uang itu, Said menatapnya lama. Lalu bibirnya bergerak mengucap kalimat istirja: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Bagi Said, uang dalam jumlah besar itu bukan berkah yang mesti dirayakan, melainkan ujian yang mengancam keselamatan akhiratnya.
Ia kemudian memanggil istrinya dan menyampaikan bahwa ada “musibah” yang masuk ke rumah mereka. Istrinya yang belum memahami maksudnya bertanya apakah Amirul Mukminin telah wafat. Said menggeleng. Musibah itu, katanya, adalah uang seribu dinar dari Umar yang kini ada di hadapan mereka, dan ia berniat menyedekahkan seluruhnya.
Lalu Said membagikan uang itu ke berbagai penjuru: kepada para janda, anak yatim, orang yang tertimpa musibah, dan mereka yang hidup dalam kekurangan. Semuanya, hingga tidak bersisa. Kepada istrinya yang memohon agar sebagian ditinggalkan, Said berkata bahwa ia tidak ingin mendahulukan kenyamanan dunia daripada bidadari surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba yang tulus bersedekah.
Kisah yang sama terulang ketika Umar mengirimkan seribu dinar kedua. Said menerimanya dengan perasaan yang sama, lalu kembali menginfakkannya habis. Kepada istrinya ia berpesan bahwa yang akan datang dari amal itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli dengan dinar.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.