Summarize the post with AI

Hidupnya jauh dari kemewahan. Berbulan-bulan dapur rumahnya tidak mengepulkan asap. Ia tidak memiliki pembantu rumah tangga. Setiap pagi, sebelum keluar menemui warganya, Said membantu istrinya mengolah adonan roti, menunggu hingga mengembang, memanggang, baru kemudian berwudhu dan bergegas menjalankan tugasnya. Pakaian yang ia miliki hanya beberapa helai, sehingga sebulan sekali ia mencuci seluruhnya, menunggu kering seharian penuh sebelum bisa keluar rumah kembali.

Empat Keluhan yang Mengejutkan

Saat Umar melakukan inspeksi mendadak ke Hims, ia memilih berbicara langsung dengan warga sebelum memanggil Said. Ternyata, masyarakat Hims pun punya keluhan. Ada empat hal yang mereka adukan. Pertama, Said baru keluar menemui warga menjelang siang, bukan di pagi hari. Kedua, ia tidak pernah menerima tamu di malam hari. Ketiga, sebulan sekali ada satu hari penuh ia tidak menampakkan diri. Keempat, sesekali di tengah pertemuan ia tiba-tiba jatuh pingsan tanpa sebab yang jelas.

Umar yang mendengar keluhan itu langsung memanggil Said dan memintanya menjelaskan satu per satu.

Soal terlambat keluar pagi, Said menjawab dengan menundukkan kepala, malu. Karena tidak memiliki pembantu, ia sendiri yang setiap pagi membantu menyiapkan makanan untuk keluarganya hingga selesai, baru kemudian berwudhu dan berangkat. Soal tidak menerima tamu malam hari, Said menjelaskan bahwa ia telah mengabdikan seluruh waktu siangnya untuk urusan rakyat, dan malamnya ia serahkan untuk beribadah kepada Allah. Shalat malam adalah hak Tuhannya yang tidak bisa ia tinggalkan. Soal sebulan sekali tidak keluar, Said mengaku hanya memiliki sedikit pakaian. Pada hari itulah ia mencuci semuanya dan menunggu hingga kering. Ia tidak memiliki pilihan lain.

Umar dan seluruh warga yang hadir terdiam. Satu per satu alasan Said meruntuhkan prasangka mereka.

Lalu tibalah pada keluhan keempat: mengapa Said kerap pingsan tiba-tiba? Inilah jawaban yang paling menghentakkan hati. Said bercerita bahwa di masa lalu, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Khubaib bin Adi, seorang sahabat Nabi, disiksa dan dibunuh dengan cara yang sangat keji oleh kaum Quraisy di Makkah. Tubuh Khubaib dicincang, dagingnya digantung, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Said hadir di sana, dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong. Setiap kali kenangan itu muncul kembali ke benaknya, saat berada di tengah-tengah warga, tubuhnya tidak sanggup menanggung beratnya rasa sesal itu, dan ia pun pingsan.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________