Summarize the post with AI

Umar menyadari bahwa Hims membutuhkan pemimpin bukan sekadar cakap secara administratif, tetapi kokoh secara spiritual. Setelah melewati perenungan panjang, pilihannya jatuh pada Said bin Amir, seorang sahabat Nabi yang dikenal kezuhudannya. Namun Said bukan orang yang mudah dibujuk dengan jabatan. Ketika pertama kali dipanggil menghadap Umar, ia justru mendahului tujuan pertemuan itu dengan menyampaikan nasihat tegas kepada sang khalifah.

“Wahai Umar, takutlah kepada Allah dalam urusan manusia, dan jangan takut kepada manusia dalam urusan Allah,” begitu Said membuka pesannya. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi yang pertama menjalankan apa yang ia perintahkan, dan yang pertama meninggalkan apa yang ia larang. Ucapan tidak boleh menyalahi perbuatan. Rakyat, baik yang jauh maupun yang dekat, adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Umar yang terkesan kemudian menyampaikan maksud sebenarnya: menunjuk Said menjadi walikota Hims. Said menolak. Ia memohon agar dibiarkan beribadah dengan tenang tanpa beban jabatan. Namun Umar bersikeras, mengingatkan bahwa para sahabat yang memilihnya menjadi khalifah pun kini menyerahkan tanggung jawab itu ke pundaknya. Said akhirnya tak bisa mengelak.

Pemimpin yang Turun ke Dapur

Setibanya di Hims, Said menjalankan amanah itu dengan cara yang jauh dari kesan pejabat pada umumnya. Gajinya yang diterima tiap bulan hanya ia ambil sebatas kebutuhan paling mendasar keluarganya. Sisanya, tanpa sisa, ia infakkan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Bahkan istrinya sendiri sempat heran dan bertanya ke mana perginya uang gaji suaminya. Said menjawab singkat: ia “meminjamkannya” kepada Allah.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________