Persiapan acara melibatkan ratusan sukarelawan yang bekerja tanpa kenal lelah. Menariknya, tidak sedikit dari mereka yang bukan Muslim, namun dengan tulus membantu menata meja, menyiapkan hidangan, dan memastikan acara berjalan lancar. Semangat gotong-royong ini mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang melampaui batas agama dan budaya.
Hidangan Khas dari Berbagai Negara
Sepanjang 2 kilometer meja yang terbentang, pengunjung dapat menemukan beragam hidangan khas dari berbagai negara. Mulai dari couscous (hidangan semolina khas Afrika Utara), briyani (nasi rempah khas Asia Selatan), tajine (rebusan daging dan sayuran khas Maroko), hingga harira (sup tradisional Ramadan).
Ketika azan Maghrib berkumandang, ribuan orang dari berbagai latar belakang duduk bersama, berbagi makanan, dan menikmati kehangatan kebersamaan. Momen ini menjadi simbolisasi kuat dari pesan Islam tentang persaudaraan dan berbagi dengan sesama.
Acara ditutup dengan tradisi minum teh mint khas Maroko yang menyegarkan, yang tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga hati para peserta.
Dukungan dari Parlemen Belgia
Kehadiran anggota parlemen Belgia dalam acara ini semakin menguatkan legitimasi dan pentingnya perayaan multikultural seperti ini. Para pejabat pemerintah yang hadir menyampaikan apresiasi atas upaya komunitas Muslim dalam mempromosikan kebersamaan, toleransi, dan perdamaian.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.