Summarize the post with AI
Kebanyakan pengunjung dari luar kota adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta, namun tidak sedikit pula wisatawan dan masyarakat umum yang sengaja datang untuk merasakan kehangatan berbuka bersama di masjid bersejarah ini.
Dapur Penuh Kesibukan dan Keceriaan
Di balik kelezatan setiap hidangan, tersimpan kerja keras puluhan relawan yang bekerja tanpa pamrih. Di area dapur dan pencucian, sekitar 12 orang relawan bertugas mencuci ribuan piring, gelas, dan sendok setiap harinya. Mereka mulai bekerja setelah salat Maghrib dan baru selesai sekitar pukul 22.00 malam.
Salah satu relawan senior, yang telah mengabdi sejak tahun 2006, menceritakan pengalamannya dengan penuh kebanggaan. “Saya sudah menjadi relawan hampir 20 tahun. Yang membuat saya betah adalah kebersamaan dan kegembiraan saat bekerja bersama. Kami seperti keluarga besar,” katanya sambil terus mencuci piring.
Di bagian persiapan makanan, sekitar 20 ibu-ibu sibuk menata nasi, lauk, dan pelengkap lainnya di atas piring. Suara kelentingan piring dan sendok yang beradu menciptakan simfoni kesibukan yang penuh makna. Kuah disajikan terpisah di meja depan untuk memudahkan penyajian dan menjaga kualitas rasa.
Pertumbuhan dan Regenerasi
Tradisi berbagi takjil di Masjid Jogokariyan mengalami pertumbuhan signifikan dari tahun ke tahun. Dimulai dengan hanya 500 porsi pada awal program, kini masjid mampu menyediakan hingga 4.200 porsi pada hari-hari tertentu. Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan pasar sore dan pemberdayaan UMKM di sekitar masjid.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.