PUNGGAWANEWS– Dalam sebuah kajian keagamaan, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan konsep rezeki yang komprehensif berdasarkan perspektif fikih Islam. Menurutnya, terdapat tiga prinsip fundamental yang perlu dipahami umat muslim dalam memandang rezeki.

Rezeki Diturunkan Seiring Usaha

Prinsip pertama menegaskan bahwa rezeki akan diberikan ketika seseorang mulai berikhtiar, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran Surah Adz-Dzariyat ayat 22. “Rezeki telah ditetapkan di langit dan akan diturunkan saat kita bergerak mencarinya,” jelas Ustadz Adi.

Namun, penerimaan rezeki tersebut bergantung pada niat di balik ikhtiar. Apakah semata untuk kepentingan duniawi, ataukah untuk meraih rida Allah. Berdasarkan niat itulah, Allah mengarahkan jalan terbaik bagi hamba-Nya.

Tidak Ada Rezeki yang Tertukar

Prinsip kedua menekankan bahwa rezeki tidak akan berkurang dan tidak mungkin tertukar antarindividu. “Jika Anda yang berusaha, mustahil hasilnya jatuh kepada orang lain, termasuk pesaing bisnis Anda,” ujar pengajar agama tersebut.

Pengecualian berlaku dalam lingkup keluarga. Usaha orang tua dapat mengalir manfaatnya kepada anak, begitu pula sebaliknya. Hal ini didukung dua ayat Al-Quran yang menjamin aliran keberkahan antaranggota keluarga.

Keberkahan Ditentukan Keimanan

Prinsip ketiga, yang disebutnya paling krusial, adalah bahwa keberkahan rezeki ditentukan oleh kualitas keimanan seseorang. “Inilah pembeda antara mereka yang beriman dengan yang belum beriman dalam persoalan rezeki,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Ustadz Adi membedakan dua orientasi pencarian rezeki. Orientasi duniawi semata akan tunduk pada hukum dunia: kerja keras, kreativitas, dan inovasi menghasilkan kekayaan material. Namun, pencapaian tersebut hanya memenuhi nafsu duniawi yang tak pernah puas.

Sebaliknya, pencarian rezeki dengan niat meraih rida Allah—sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 172—akan mendapat rezeki yang baik (thayyib) sesuai kadar keimanan.

Menanti dengan Sabar dan Iman

Ustadz Adi mengingatkan bahwa penundaan datangnya rezeki bukan berarti penolakan. “Setiap ikhtiar dicatat dan rezekinya ditetapkan. Kadang Allah mengumpulkannya untuk diberikan di waktu yang tepat, lengkap dengan bonus pengalaman yang menempa karakter,” jelasnya.

Ia mengambil contoh Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat Nabi yang menjadi orang terkaya dalam sejarah Islam dengan kekayaan setara 14.000 triliun rupiah. Meski kaya raya, ia dijamin masuk surga tanpa hisab karena menggunakan hartanya untuk keberkahan dunia dan bekal akhirat.

“Jangan simpulkan Allah tidak memberi hanya karena belum dapat pekerjaan setelah beribadah. Boleh jadi yang ditolak belum cocok dengan keimanan kita, atau Allah sedang menguatkan mental kita untuk menerima yang lebih baik,” pungkas Ustadz Adi.

Kajian ini menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan orientasi ukhrawi dalam mencari nafkah, serta kesadaran bahwa rezeki hakiki bukan sekadar materi, melainkan keberkahan yang menyertai setiap pencapaian hidup.

Sumber

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________