Summarize the post with AI
Alih-alih tidur nyenyak, Thalhah justru gelisah berjalan mondar-mandir. Ia merasa tidak pantas tidur sementara harta sebesar itu menumpuk di rumahnya sementara saudara-saudaranya hidup dalam kesulitan. Malam itu juga, tanpa menunggu fajar, ia membagikan seluruh uang itu kepada keluarga-keluarga kaum Muhajirin dan Anshar yang membutuhkan hingga tidak ada satu dirham pun tersisa.
Babak terakhir hidupnya diwarnai oleh cobaan yang paling menyayat hati: Perang Jamal. Di tengah fitnah yang meletakkan persatuan umat pasca terbunuhnya Khalifah Utsman, Thalhah bersama Zubair bin Awwam dan Aisyah radhiallahu anha menuntut qisas bagi para pembunuh Utsman. Perbedaan ijtihad dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang memilih untuk menstabilkan pemerintahan terlebih dahulu berujung pada peristiwa yang tidak pernah diinginkan oleh para pemimpinnya itu. Para penyulut fitnah berhasil memicu pertempuran di antara dua kubu yang sesungguhnya sama-sama menginginkan kebenaran.
Di tengah pertempuran, Thalhah menyadari kebenaran argumen Ali. Ia memutuskan menarik diri. Namun sebelum ia sempat menjauh, sebuah anak panah misterius menembus urat di bawah lututnya. Ia roboh dan darahnya mengucur tak terbendung. Saat-saat terakhirnya ia isi dengan membaiat Khalifah Ali, menutup hidupnya dengan upaya terakhir menyatukan umat yang ia cintai. Thalhah bin Ubaidillah wafat pada usia sekitar 62 tahun, benar-benar meraih kesyahidan yang sejak Uhud telah dijanjikan Allah untuknya.
Khalifah Ali yang menemukan jasadnya menangis dengan tangisan yang sangat piluh. Ia membersihkan debu dari wajah Thalhah dan berkata dengan suara gemetar, “Sungguh berat bagiku wahai Abu Muhammad, melihatmu terbaring bersimbah darah di bawah bintang-bintang langit.”



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.