Summarize the post with AI

Setiap sabetan pedang yang mengarah ke Rasulullah ia tangkis dengan tangannya sendiri hingga jari-jarinya putus. Setiap anak panah yang meluncur ia hadang dengan telapak tangannya hingga sebuah anak panah menancap menembus telapak tangannya dan melumpuhkan tangan itu selamanya. Lebih dari 70 luka dari berbagai senjata mengoyak tubuhnya. Namun ia terus berdiri dan terus bertarung.

Bahkan ketika Rasulullah hendak naik ke sebuah batu besar untuk berlindung namun tidak sanggup karena berat baju besi dan parahnya luka, Thalhah yang kala itu tubuhnya telah bersimbah darah itu bangkit dan membungkukkan badannya, mempersilakan sang nabi menginjak punggungnya sebagai pijakan. Di ambang kematiannya sendiri, ia masih menjadikan tubuhnya tumpuan bagi keselamatan orang yang paling ia cintai. Abu Bakar yang menyaksikan hal itu kelak berkata: jika ada yang bertanya tentang hari itu, katakanlah seluruhnya adalah milik Thalhah.

Setelah pertempuran usai, Thalhah ditemukan tergeletak pingsan dalam sebuah lubang dalam kondisi yang membuat semua orang mengira ia telah syahid. Namun Allah berkehendak lain. Ia masih bernafas. Atas pengorbanan yang melampaui batas kemanusiaan itu, Rasulullah menganugerahkannya gelar yang belum pernah diberikan kepada siapa pun: “Barang siapa yang ingin melihat seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”

Setelah Uhud, Thalhah menunjukkan bahwa kepahlawanan tidak hanya hidup di medan perang. Dengan seluruh kekayaan bisnisnya yang kini ia arahkan sepenuhnya untuk kebaikan umat, ia mendapat dua julukan baru langsung dari Rasulullah: Thalhah Al-Khair si Thalhah penuh kebaikan, dan Thalhah Al-Fayyad si Thalhah yang maha dermawan. Suatu malam, uang hasil penjualan tanahnya senilai 700.000 dirham tiba di rumah.



Follow Widget