Summarize the post with AI
Ketika perintah hijrah turun, Thalhah berdiri di hadapan ujian terberat yang berbeda dimensinya. Ia bukan hanya meninggalkan Makkah secara fisik, melainkan meninggalkan seluruh imperium kekayaan yang telah ia bangun. Rumah-rumah mewah, jaringan bisnis yang menggurita hingga mancanegara, dan kemapanan finansial yang dibangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun semuanya ia tinggalkan tanpa satu pun rasa penyesalan. Baginya, semua itu terlampau kecil untuk dibandingkan dengan kesempatan hidup bebas di sisi Rasulullah dalam membangun peradaban baru.
Dalam perjalanan hijrah itu, terjadi sebuah momen yang indah dan bermakna. Thalhah yang kembali dari kafilah dagang Syam berpapasan dengan Rasulullah dan Abu Bakar di tengah jalan. Melihat pakaian kedua pemimpinnya yang tampak lusuh setelah perjalanan berat termasuk tiga hari bersembunyi di Gua Tsur, naluri dermawan Thalhah langsung bekerja. Ia memilihkan beberapa helai pakaian putih terbaik dari dagangannya dan menghadiahkannya kepada keduanya. Ia menjadi orang yang mendandani Rasulullah sebelum beliau memasuki kota yang akan menjadi pusat dakwah Islam sedunia.
Namun nama Thalhah bin Ubaidillah benar-benar terukir dengan tinta emas sejarah pada hari yang paling kelam sekaligus paling heroik: Perang Uhud. Di lembah Gunung Uhud, kemenangan yang sudah hampir digenggam kaum muslimin tiba-tiba berbalik menjadi malapetaka ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka untuk memungut harta rampasan. Khalid bin Walid yang saat itu masih di pihak musuh memanfaatkan celah itu dengan kecepatan kilat. Barisan kaum muslimin porak poranda diserang dari dua arah.
Di puncak kekacauan itulah berita bohong disebarkan: Muhammad telah terbunuh. Sebagian besar pasukan muslim kehilangan orientasi. Rasulullah terdesak, terpisah dari pasukannya, dan menjadi sasaran serangan bertubi-tubi. Darah mengalir dari luka di wajah beliau yang mulia. Pada saat paling kritis dalam sejarah Islam itulah, Thalhah melesat menembus kepungan musuh. Ia berdiri tegap menjadikan raganya sebagai tembok pelindung.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.