Summarize the post with AI

Perjalanan pulang ke Makkah terasa berbeda. Setiap langkah unta yang dipijaknya seolah mempercepat detak jantung yang tidak sabar mencari jawaban. Setiba di kampung halaman, ia mendapati kabar bahwa Muhammad bin Abdullah, sosok paling jujur dan terpercaya di seluruh Makkah, telah menerima wahyu dan memproklamasikan diri sebagai nabi. Lebih mengejutkan lagi, sahabat karibnya Abu Bakar telah lebih dahulu membenarkan risalah itu.

Tanpa menunggu lama, Thalhah menemui Abu Bakar dan meminta diantarkan untuk berjumpa langsung dengan Rasulullah. Di hadapan wajah sang nabi yang memancarkan ketenangan dan kebenaran, Thalhah mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan suara mantap dan hati yang sepenuhnya lapang. Namanya pun terukir sebagai bagian dari As-Sabiqun Al-Awwalun, generasi pertama yang memeluk Islam.

Keislamannya mengguncang kaum Quraisy. Para pembesar yang tidak sanggup menerima kenyataan bahwa salah satu putra terbaik mereka telah berpaling dari agama leluhur segera melancarkan tekanan. Ujian paling berat justru datang dari arah yang paling tidak terduga: ibunya sendiri, yang dengan segala cara berusaha membuatnya kembali, mulai dari rayuan penuh air mata hingga cacian yang pedih. Namun cahaya tauhid yang telah bersemayam di dada Thalhah tidak bisa dipadamkan oleh tangis seorang ibu sekali pun. Ia tetap berbakti, namun tidak pernah sedetik pun berkompromi dalam soal akidah.

Tekanan semakin meningkat ketika Naufal bin Khuwailid, yang dijuluki singa Quraisy karena kebengisannya, menangkap Thalhah dan Abu Bakar lalu mengikat keduanya dengan satu tali dan menyeret mereka di hadapan khalayak. Peristiwa inilah yang mengabadikan keduanya dengan julukan kehormatan Al-Qarnayn, dua sahabat yang diikat menjadi satu. Cambuk, siksaan fisik, dan hinaan publik diterima keduanya. Namun setiap luka yang mendarat di tubuh Thalhah justru memperkokoh imannya. Ia melihat keteguhan di wajah saudaranya Abu Bakar dan menemukan kekuatan serupa dalam dirinya.



Follow Widget