Kondisi menjadi kacau. Sebagian sahabat terpencar, dan Rasulullah ﷺ berada dalam bahaya besar. Pada saat genting inilah, tampak kemuliaan akhlak dan keteguhan iman para sahabat sejati.
Sahabat yang Menjadi Perisai
Di antara sahabat tersebut adalah mereka yang dengan penuh kesadaran berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ, menghadapkan tubuhnya pada anak panah dan pedang musuh. Mereka tidak memikirkan keselamatan diri sendiri. Yang ada dalam hati mereka hanyalah satu: Rasulullah ﷺ harus selamat.
Ada sahabat yang punggungnya dipenuhi anak panah, ada yang tubuhnya penuh luka, namun tetap berdiri. Bahkan ada yang roboh syahid dalam posisi menghadap Nabi ﷺ, seakan tubuhnya berkata, “Wahai Rasulullah, ambillah hidupku, asal engkau tetap hidup.”
Inilah cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ, bukan sekadar ucapan, tetapi dibuktikan dengan pengorbanan.
Makna dan Pelajaran
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang loyalitas, keberanian, dan kesiapan berkorban demi kebenaran.
Hari ini kita mungkin tidak diminta mengorbankan tubuh kita di medan perang, tetapi kita diminta menjaga sunnah Rasulullah ﷺ, membela ajarannya, dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.