Summarize the post with AI
Puncak kejayaan kesultanan dicapai di bawah kepemimpinan Sultan Babullah, yang dikenal dengan gelar Khalifah Imperium Nusantara. Di bawah komandonya, pengaruh Ternate menjangkau 72 negeri di seluruh kepulauan, bukan melalui invasi bersenjata, melainkan lewat syiar agama, persaudaraan, dan bantuan dalam penyelesaian konflik antardaerah. Sebuah model kepemimpinan yang jauh melampaui zamannya.
Keterbukaan Kesultanan Ternate tidak berhenti pada batas-batas komunitas Muslim. Ketika bangsa Portugis tiba di awal abad ke-15 membawa semboyan Fortaleza, Feitoria, dan Igreja — perdagangan, militer, dan misi keagamaan — Sultan Bayanullah menyambut mereka dengan sikap yang sama terbukanya. Bahkan, para misionaris diizinkan menyebarkan ajaran Kristen kepada masyarakat yang belum memeluk agama apapun. Kebijakan itulah yang kelak menjadi jembatan bagi masuknya Injil ke tanah Papua — sebab sebelum para misionaris berlayar ke sana, mereka terlebih dahulu meminta restu kepada Sultan Tidore dan Sultan Ternate.
Namun keterbukaan itu kemudian dikhianati. Ambisi monopoli dagang Portugis memicu gelombang konflik yang berdarah. Sultan Khairun terbunuh secara licik di Benteng Castella. Anaknya, Sultan Baabullah, bangkit memimpin perlawanan dan berhasil mengusir Portugis dari tanah Ternate. Meski begitu, panggung sejarah kembali berputar — Spanyol, Inggris, lalu Belanda datang silih berganti, masing-masing membawa bendera, kepentingan dagang, dan ambisi kekuasaan yang tak jauh berbeda. Belanda, dengan etos kapitalisme Protestannya, dinilai paling agresif dalam praktik monopoli yang merugikan rakyat dan memantik peperangan.
Namun sejarah juga mencatat bahwa pengkhianatan bangsa asing tidak mampu mengikis warisan toleransi yang telah berakar berabad-abad. Kelenteng Tian Haw yang dibangun pada 1657 hingga kini berdiri tegak sebagai saksi bisu diterimanya komunitas Konghucu di tengah masyarakat Muslim Ternate. Pada 1822, Kesultanan Ternate bahkan menganugerahkan jabatan struktural kepada warga keturunan Tionghoa berupa Kapita China — sebuah pengakuan formal bahwa sultan menerima siapa pun tanpa memandang asal-usul.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.