Summarize the post with AI
Hari pertama tiba. Menjelang waktu berbuka, azan berkumandang. Keluarga kecil itu bersiap menyantap bekal sederhana mereka. Namun tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Seorang lelaki berdiri di ambang pintu dan mengaku sebagai orang miskin yang kelaparan, memohon apa pun yang bisa diberikan. Ali menoleh kepada Fatimah. Fatimah menatap Hasan dan Husein. Anak-anak kecil itu mengangguk, seolah memahami bahwa memberi adalah hal yang harus dilakukan. Roti satu-satunya itu pun diserahkan. Malam itu, keluarga Ali berbuka puasa hanya dengan air putih.
Hari kedua berlalu dengan cara yang hampir serupa. Saat waktu berbuka kembali datang, ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini seorang anak yatim piatu yang datang dengan perut kosong dan mata yang memohon. Tanpa ragu, makanan yang telah disiapkan kembali diberikan. Dan untuk kedua kalinya, mereka berbuka hanya dengan air putih.
Pada hari ketiga, ujian itu datang dalam rupa yang berbeda. Seorang tawanan perang mengetuk pintu mereka dan memohon diberi makan. Dalam ajaran Islam, bahkan tawanan sekalipun berhak mendapat perlakuan manusiawi dan tidak boleh dibiarkan kelaparan. Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein kembali mengangguk bersama. Makanan itu pun diberikan untuk ketiga kalinya. Dan untuk ketiga kalinya pula, mereka menutup hari dengan berbuka puasa hanya menggunakan air putih.
Selama tiga hari penuh berpuasa, keluarga mulia itu tidak sedikit pun mencicipi makanan. Namun tidak ada satu pun keluhan yang terucap. Tidak ada tangis penyesalan, tidak ada pertengkaran, tidak ada permintaan untuk mengakhiri penderitaan. Yang ada hanyalah ketenangan jiwa dan keridaan hati.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.