BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS — Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang kerap mengukur kebahagiaan dari kemewahan materi, sebuah kisah dari masa awal Islam kembali mengemuka dan menggetarkan hati jutaan umat. Ini adalah cerita tentang rumah tangga yang dibangun di atas fondasi keimanan, ketulusan, dan pengorbanan tanpa batas — kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW.

Kehidupan pasangan mulia ini jauh dari kata mewah. Ali, yang kerap bekerja sebagai buruh harian, tidak selalu pulang membawa kecukupan. Terkadang hasil jerih payahnya hanya cukup untuk makan sehari, terkadang bahkan lebih sedikit dari itu. Namun tidak satu pun kesempitan hidup itu pernah menjadi benih pertengkaran atau alasan keduanya saling menyalahkan. Rumah mereka adalah rumah yang dijaga oleh cinta dan ketakwaan.

Suatu ketika, dua putra mereka, Hasan dan Husein, jatuh sakit. Dilanda kekhawatiran yang mendalam, Ali dan Fatimah bersumpah kepada Allah: jika kedua buah hati mereka sembuh, mereka akan berpuasa selama tiga hari sebagai bentuk syukur dan nazar. Tidak lama kemudian, Hasan dan Husein berangsur pulih. Sumpah itu pun harus ditunaikan.

Ali segera bekerja keras mencari nafkah untuk mempersiapkan bekal berbuka. Dari seluruh usahanya, yang berhasil ia bawa pulang hanyalah sepotong roti — cukup dibagi untuk tiga kali makan selama tiga hari bagi seluruh anggota keluarga. Itulah satu-satunya yang mereka miliki.



Follow Widget