Summarize the post with AI
Pernikahan pun dilangsungkan. Dan malam pertama menjadi momen yang sepenuhnya membalikkan semua dugaan Tsabit. Ketika ia memasuki kamar sang istri, ia disambut dengan salam yang lembut dan merdu, bukan kesunyian. Perempuan yang berdiri di hadapannya mampu bergerak, melihat, mendengar, dan berbicara dengan sempurna. Kecantikannya bahkan membuat Tsabit terpesona.
Dalam kebingungan itu, Tsabit bertanya langsung kepada istrinya. Sang istri pun memberikan jawaban yang mengguncang sekaligus menerangi hati. Ia menjelaskan bahwa dirinya disebut buta karena tidak pernah memandang sesuatu yang diharamkan Allah. Ia disebut tuli karena menghindari segala hal yang tidak diridai-Nya. Ia disebut bisu karena hanya menggunakan lisannya untuk menyebut nama Allah. Dan ia disebut lumpuh karena tidak pernah melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang mengundang kemurkaan-Nya.
Tsabit menyadari bahwa ia bukan sedang mendapatkan hukuman, melainkan sebuah anugerah yang tersembunyi di balik ujian. Ia mendapatkan seorang istri yang tidak hanya cantik rupa, tetapi juga luar biasa mulia akhlak dan ketakwaannya.
Dari pernikahan yang bermula dari sebuah apel yang terjatuh itulah lahir seorang putra. Anak laki-laki yang kemudian hari dikenal oleh seluruh dunia Islam sebagai Al-Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi yang hingga kini menjadi salah satu dari empat mazhab besar dalam Islam Sunni.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.