Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, Di balik setiap tokoh besar dalam sejarah, selalu tersimpan kisah yang tak terduga tentang bagaimana takdir bekerja dengan cara-cara yang melampaui akal manusia biasa. Demikian pula dengan sosok Tsabit bin Ibrahim, seorang pemuda saleh yang hidup pada penghujung era tabiin, yang kisah hidupnya mengajarkan betapa sebutir buah apel dapat mengubah arah sejarah peradaban Islam.
Saat matahari membakar jalanan di pinggiran Kota Kufah, Tsabit yang tengah berjalan dalam kondisi lapar dan dahaga mendapati sebuah apel merah jatuh dari balik pagar sebuah kebun. Tanpa banyak berpikir, ia mengambil buah itu dan memakan separuhnya. Namun, di tengah kenikmatan itu, kesadaran moral membangunkannya. Ia menyadari bahwa buah itu bukan miliknya dan belum tentu dihalalkan oleh sang pemilik.
Perasaan bersalah segera menguasai dirinya. Tsabit tidak memilih untuk sekadar beristighfar dalam hati lalu melanjutkan perjalanan seperti yang mungkin dilakukan kebanyakan orang. Sebaliknya, ia masuk ke dalam kebun untuk mencari pemiliknya. Di sana ia hanya menemui seorang pelayan kebun yang kemudian mengatakan bahwa sang pemilik tinggal jauh, memerlukan perjalanan tujuh hari penuh untuk sampai ke sana.
Tanpa keraguan, Tsabit berangkat. Prinsip yang terpatri dalam hatinya begitu kuat bahwa ia tidak sanggup membiarkan sesuatu yang haram mengendap dalam tubuhnya, merujuk pada hadis Rasulullah SAW bahwa siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih layak baginya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.