Tentu, perak bukan tanpa risiko. Volatilitasnya tinggi, sering terpukul aksi ambil untung, dan pasarnya lebih kecil dibanding emas. Tapi justru di situlah logikanya bekerja. Perak tidak cocok untuk mental ingin cepat tenang. Ia cocok untuk mereka yang paham siklus, suplai, dan permintaan industri.

Beberapa analis global bahkan memperkirakan perak berpotensi melaju ke level tiga digit pada 2026 jika kebutuhan industri dan minat lindung nilai bertemu. Ini bukan janji kaya mendadak, tapi sinyal bahwa perak bukan logam pinggiran. Ia hanya tidak dipromosikan sekeras emas atau Bitcoin.

Masalah terbesar investor ritel Indonesia sebenarnya bukan memilih instrumen yang salah, tapi menyamakan semua instrumen dengan harapan yang sama. Emas dibeli dengan harapan cepat naik, Bitcoin dibeli tanpa kesiapan mental, perak ditinggal karena dianggap membosankan.

Padahal logikanya sederhana, emas adalah jangkar, perak adalah pengungkit, Bitcoin adalah spekulasi berisiko tinggi. Dunia tidak dibangun oleh satu logam atau satu aset saja. Ia dibangun oleh kombinasi fungsi. Kalau kita masih menganggap perak kelas dua hanya karena tidak viral, mungkin yang perlu di-upgrade bukan portofolionya, tapi cara berpikir investasinya.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________