Bitcoin berada di kutub sebaliknya. Ia berisik, ideologis, dan penuh janji masa depan. Sekali naik, dirayakan seperti wahyu. Sekali jatuh, disalahkan bandarnya. Bitcoin bukan instrumen yang keliru, tapi sering dibeli oleh orang yang tidak siap dengan risikonya.

Volatilitas ekstrem, ketergantungan pada sentimen, dan ketidakpastian regulasi membuat Bitcoin lebih cocok disebut aset spekulatif berisiko tinggi daripada penyimpan nilai yang mapan. Di Indonesia, masalahnya bukan pada Bitcoinnya, tapi pada mental investor nya, masuk di puncak euforia, keluar saat panik, lalu menyimpulkan semua investasi itu judi.

Di antara emas yang pasif dan Bitcoin yang gaduh, perak justru berdiri di posisi paling aneh, vital tapi diremehkan. Managing Director Solomon Global, Paul Williams, menyebut daya tarik perak meningkat karena ia punya dua identitas sekaligus, logam industri strategis dan penyimpan nilai.

Lebih dari setengah permintaan perak global berasal dari sektor industri nyata, energi terbarukan, kendaraan listrik, elektronik, dan kesehatan. Ketika dunia bicara transisi energi dan green economy, perak tidak ikut seminar. Ia langsung dipakai. Sarkasnya di sini, kita sibuk berdebat masa depan, tapi mengabaikan logam yang benar-benar membangun masa depan itu.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________