Di bidang kesehatan, kondisi tidak kalah mengkhawatirkan. Bantuan obat-obatan masih sangat terbatas, bahkan untuk jenis yang paling mendasar. “Parasetamol bisa habis dalam sehari. Bius lokal untuk tindakan medis seperti penjahitan luka sangat minim. Bahkan anak-anak terkadang tidak mendapat bius lokal saat menjalani prosedur medis,” ungkap Reinaldi dengan nada prihatin.
Israel masih memberlakukan pembatasan ketat terhadap jenis bantuan yang boleh masuk, termasuk kategori obat-obatan. Kondisi ini memaksa tenaga medis untuk memilah pasien mana yang bisa mendapat perawatan optimal dan mana yang harus menerima penanganan seadanya.
Bantuan Kemanusiaan Terus Mengalir
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga swadaya masyarakat internasional terus mengirimkan bantuan logistik makanan ke Gaza. Sistem distribusi bantuan medis dilakukan melalui gudang-gudang di beberapa titik kesehatan strategis, yang kemudian disebarkan melalui puskesmas-puskesmas darurat yang dibangun untuk melayani kebutuhan warga.
Meski intensitas serangan berkurang pada awal Ramadan, Reinaldi melaporkan belum mendengar adanya korban akibat serangan Israel pada hari pertama bulan suci tersebut. Namun, kehadiran pesawat tempur dan drone militer tetap menjadi pengingat bahwa situasi keamanan masih rapuh.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.