PUNGGAWANEWS, JAKARTA — Ekonom senior sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membagikan pandangan filosofisnya tentang makna kesuksesan yang sejati. Menurutnya, ukuran sukses bukan hanya soal pencapaian materi, melainkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap berbuat kebajikan kepada sesama.

“Kesuksesan adalah ketika semua yang kita butuhkan dapat terpenuhi, kita mampu berbuat baik selama hidup di dunia, merasakan kebahagiaan, dan kelak masuk surga,” ujar Purbaya dalam sebuah wawancara.

Target Pertumbuhan 8 Persen Bukan Mustahil

Berbicara tentang prospek ekonomi nasional, Purbaya menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukanlah angka yang mustahil untuk dicapai. Kuncinya terletak pada aktivasi seluruh mesin penggerak ekonomi Indonesia secara bersamaan dan seimbang.

“Untuk mencapai pertumbuhan tinggi, semua mesin ekonomi harus dijalankan dengan baik. Tidak boleh hanya pemerintah atau swasta saja yang aktif, keduanya harus berjalan bersama,” jelasnya.

Ia menganalisis bahwa selama 20 tahun terakhir, mesin ekonomi Indonesia berjalan timpang. Pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pertumbuhan ekonomi mencapai rata-rata 6 persen dengan sektor swasta sebagai motor utama, meski pembangunan infrastruktur tidak masif.

Sebaliknya, di era Joko Widodo, pertumbuhan ekonomi berada di bawah 5 persen meski pembangunan infrastruktur dilakukan secara besar-besaran. Hal ini terjadi karena sektor swasta cenderung kurang berkontribusi signifikan.

Kombinasi Kebijakan Kunci Akselerasi Ekonomi

Purbaya optimistis bahwa jika kedua mesin ekonomi—fiskal (pemerintah) dan sektor swasta—dijalankan secara bersamaan, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan 8 persen dalam lima tahun ke depan.

“Ini bukan soal impian lagi, tetapi harapan yang realistis jika pendekatan kebijakannya tepat,” katanya.

Menurutnya, pemerintahan Prabowo Subianto perlu mengombinasikan kebijakan-kebijakan terbaik dari era SBY dan Jokowi. Dengan pembelajaran dari sejarah ekonomi 50 tahun ke belakang, kebijakan yang tepat dapat dirumuskan.

“Potensi pertumbuhan kita saat ini 6,5-6,7 persen. Jika ditambah dengan usaha-usaha strategis lain, target 8 persen dapat tercapai,” tambahnya.

Fokus Permintaan Domestik Kunci Ketahanan Ekonomi

Purbaya menekankan pentingnya menjaga permintaan domestik sebagai benteng ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global. Ia mencontohkan, konsumsi rumah tangga dan investasi menyumbang sekitar 95 persen dari total ekonomi nasional.

“Ekspor kita hanya sekitar 22 persen terhadap PDB. Artinya, hampir 80 persen ekonomi kita bertumpu pada permintaan domestik. Jika fokus menjaga permintaan dalam negeri, gejolak global tidak perlu terlalu dikhawatirkan,” ujarnya.

Ia mengingatkan pengalaman Indonesia saat krisis keuangan global 2009, ketika hampir semua negara mengalami pertumbuhan negatif, Indonesia justru mampu tumbuh 4,6 persen.

“Kuncinya waktu itu adalah menjaga mesin dalam negeri. Pemerintah melakukan ekspansi fiskal, Bank Indonesia menurunkan suku bunga meski rupiah sempat melemah. Hasilnya, ekspektasi ekonomi membaik, rupiah menguat, dan investasi asing masuk,” kenangnya.

Optimisme Tahun Ini

Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 sedikit melemah dibanding periode sebelumnya, Purbaya tetap optimistis ekonomi akan pulih seiring dengan berjalannya kebijakan pemerintahan baru.

“Ini wajar karena pemerintahan baru masih dalam tahap transisi. Namun jika mesin-mesin ekonomi yang belum berjalan segera diaktifkan, ekonomi akan segera berakselerasi. Kita tidak akan mengalami resesi seperti yang dikhawatirkan banyak pihak,” pungkasnya.

Sumber

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________