PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Saham-saham emiten rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami lonjakan signifikan sejak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengindikasikan akan mengkaji ulang kebijakan cukai hasil tembakau (CHT). Fenomena yang dijuluki “Purbaya Effect” ini membuat harga saham rokok melesat hingga 70 persen, meski mayoritas perusahaan masih mencatatkan penurunan kinerja keuangan.
Dalam perdagangan pada 23 September 2025, saham Indonesia Tobacco (ITIC) tercatat naik paling kencang 12,9 persen ke harga Rp 350 per saham, dengan total kenaikan mingguan mencapai 70 persen. Gudang Garam (GGRM) juga mengalami kenaikan 12 persen dalam sehari, sedangkan HM Sampoerna (HMSP) naik 3,75 persen.
Wismilak Inti Makmur (WIIM) turut menguat 7,38 persen pada perdagangan tersebut. Reli saham empat emiten rokok di BEI masih berlanjut, imbas pernyataan Menteri Keuangan yang berencana meninjau ulang kebijakan cukai rokok.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan segera berdialog dengan asosiasi industri rokok untuk merumuskan kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) yang lebih berimbang. Langkah ini diambil setelah tarif cukai rokok mengalami kenaikan drastis sebesar 57 persen dalam lima tahun terakhir.
Menurut analisis, kenaikan tarif yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan penerimaan negara karena mendorong masyarakat beralih ke rokok ilegal yang tidak terkena cukai. Menkeu Purbaya berupaya memberantas rokok ilegal dengan memanggil marketplace dan melakukan pengecekan acak.
Meski saham mengalami kenaikan, kinerja keuangan mayoritas emiten rokok masih menunjukkan tren negatif. Gudang Garam mencatat penurunan pendapatan 11,3 persen menjadi Rp 44,36 triliun pada semester I 2025, dengan laba bersih anjlok 87,3 persen menjadi Rp 117,16 miliar.
HM Sampoerna juga mengalami penurunan pendapatan tipis 4,56 persen menjadi Rp 55,17 triliun, dengan laba bersih turun 35,8 persen menjadi Rp 2,12 triliun. Indonesia Tobacco mencatat penurunan pendapatan 8,4 persen menjadi Rp 149,64 miliar dengan laba bersih turun 7,85 persen.
Hanya Wismilak yang berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 29,64 persen menjadi Rp 2,88 triliun, meski laba bersihnya hanya naik tipis 0,7 persen.
Data menunjukkan produksi rokok nasional terus mengalami penurunan dari sekitar 30 miliar batang pada 2018 menjadi hanya sekitar 20 miliar batang pada 2024. Hingga Agustus 2025, produksi baru mencapai 25,5 miliar batang, menunjukkan tekanan yang dialami industri rokok legal.
Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh maraknya rokok ilegal yang menawarkan harga jauh lebih murah karena tidak dikenakan cukai.
Beberapa emiten mulai melakukan diversifikasi bisnis untuk menghadapi tekanan industri. HM Sampoerna kini mengembangkan produk tembakau bebas asap seperti ICOS, ICOS Iluma, dan ICOS Club yang diharapkan dapat menopang kinerja keuangan di masa depan.
Analis menyarankan investor untuk menganalisis ulang dan mengevaluasi apakah kenaikan saham rokok saat ini bersifat sementara atau berkelanjutan, mengingat kinerja fundamental perusahaan-perusahaan tersebut masih lemah. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan kebijakan pemerintah yang akan datang terkait industri rokok dan upaya pemberantasan rokok ilegal.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.