Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kembali mempertemukan kita dengan bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh ampunan, bulan yang di dalamnya setiap amal dilipatgandakan—bulan Ramadan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadan tahun ini. Ada yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi hari ini telah kembali kepada Allah. Maka kehadiran kita di majelis subuh ini bukan sekadar rutinitas, tetapi tanda kasih sayang Allah kepada kita—bahwa Allah masih memberi waktu untuk memperbaiki diri.
Setiap Aktivitas Memiliki Tujuan
Jika kita perhatikan kehidupan ini, hampir tidak ada aktivitas yang dilakukan manusia tanpa tujuan.
Orang bekerja karena ingin penghasilan.
Orang belajar karena ingin masa depan.
Orang membangun keluarga karena ingin kebahagiaan.
Tidak ada yang dilakukan secara sia-sia.
Dan ternyata, prinsip ini juga berlaku dalam ibadah.
Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu tanpa tujuan. Setiap ibadah memiliki hikmah, memiliki arah, dan memiliki dampak bagi kehidupan manusia—baik di dunia maupun di akhirat.
Shalat bukan hanya gerakan.
Zakat bukan hanya pemberian.
Puasa bukan sekadar menahan lapar.
Semua adalah proses pembentukan jiwa.
Puasa: Perintah Langsung untuk Orang Beriman
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Perhatikan bagaimana ayat ini dimulai:
“Wahai orang-orang yang beriman…”
Ini adalah panggilan kehormatan.
Artinya puasa bukan sekadar kewajiban fisik, tetapi bukti keimanan.
Karena iman tidak cukup hanya diyakini—iman harus dibuktikan.
Jika seseorang mengatakan cinta kepada Allah, maka puasa adalah salah satu bentuk pembuktiannya.
Tujuan Puasa: Menghidupkan Takwa
Allah tidak menyebut tujuan puasa agar kita sehat.
Tidak pula agar kita disiplin.
Walaupun itu semua manfaatnya.
Namun tujuan utamanya hanya satu:
Agar kita bertakwa.
Lalu apa itu takwa?
Takwa adalah sistem kontrol dalam diri manusia.
Takwa adalah kemampuan untuk berkata:
Takwa bukan hanya soal ibadah, tetapi soal keputusan hidup.
Takwa: Mesin Pengarah Kehidupan
Dalam diri manusia ada dua kecenderungan:
- Kecenderungan menuju kebaikan
- Kecenderungan menuju keburukan
Dan takwa berfungsi sebagai navigator.
Jika takwa kuat:
- keputusan menjadi benar
- langkah menjadi terarah
- hidup menjadi lebih tenang
Sejarah telah membuktikan hal ini.
Lihat bagaimana para sahabat Rasulullah berubah ketika iman dan takwa mereka aktif.
- Abdurrahman bin Auf menjadi simbol kesuksesan ekonomi
- Utsman bin Affan menjadi teladan kedermawanan
- Umar bin Khattab menjadi simbol kepemimpinan yang adil
Sebelum Islam, mereka adalah manusia biasa.
Setelah takwa menguat, mereka menjadi luar biasa.
Artinya:
Takwa tidak menghambat kesuksesan—takwa justru mengarahkannya.
Ramadan: Bulan Aktivasi Takwa
Mengaktifkan takwa bukan perkara mudah jika dilakukan sendiri-sendiri.
Sulit menjaga tilawah setiap hari.
Sulit menjaga sedekah setiap waktu.
Sulit menjaga qiyamul lail sepanjang tahun.
Namun Allah Maha Tahu kelemahan manusia.
Maka Allah menghadirkan Ramadan.
Ramadan adalah “bulan pelatihan jiwa”.
Dalam satu bulan:
- shalat meningkat
- sedekah meningkat
- tilawah meningkat
- dzikir meningkat
Semua sinyal takwa dihidupkan bersamaan.
Ramadan seperti “charging station” spiritual.
Jika dimanfaatkan dengan baik, efeknya bisa bertahan sebelas bulan berikutnya.
Dua Dimensi Kesuksesan
Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia.
Islam juga tidak mengajarkan kita melupakan akhirat.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Bekerjalah seolah hidup lama.
Beribadahlah seolah akan meninggal besok.
Allah mengajarkan doa:
“Ya Allah berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.”
Artinya:
- sukses dunia penting
- sukses akhirat lebih penting
Karena dunia hanya sementara.
Setiap hari kita mendengar kabar kematian.
Suatu hari nanti, nama kita juga akan disebut.
Pertanyaannya:
Apa yang sudah kita siapkan?
Ramadan Adalah Momentum Perubahan
Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan.
Ramadan adalah kesempatan perubahan.
- Yang jarang shalat menjadi rajin
- Yang jarang membaca Qur’an menjadi dekat
- Yang jarang sedekah menjadi ringan tangan
Ramadan adalah titik restart kehidupan.
Dan orang yang sukses Ramadan adalah orang yang berubah setelah Ramadan.
Penutup
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita.
Karena kita tidak tahu: apakah ini Ramadan terakhir kita.
Semoga Allah:
- menerima puasa kita
- menerima shalat kita
- menguatkan takwa kita
- dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang meraih kesuksesan hakiki di dunia dan akhirat.
Doa Penutup
Ya Allah, ampuni dosa kami.
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Terimalah seluruh amal ibadah kami di bulan Ramadan ini.
Ya Allah, kuatkan iman kami, lapangkan rezeki kami, sehatkan tubuh kami, dan husnul khatimah akhir hidup kami.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzaban nar.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.