Summarize the post with AI
“Ini sudah menjadi kebijakan negara, ini survival mode. Supaya kita tidak tergantung pada global terhadap BBM kita, khususnya untuk solar,” tegas Bahlil.
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut menegaskan bahwa pemerintah sedang mempercepat seluruh tahapan implementasi B50. Ia menyebutkan bahwa PT Pertamina telah menyatakan kesiapan penuh untuk menjalankan proses pencampuran atau blending bahan bakar tersebut secara massal.
Airlangga memproyeksikan bahwa penerapan B50 berpotensi menekan konsumsi BBM berbasis fosil hingga 4 juta kiloliter. Lebih dari sekadar soal energi, program ini juga dipandang sebagai instrumen penghematan fiskal yang signifikan bagi negara. Dalam enam bulan pertama pelaksanaannya, pemerintah memperkirakan efisiensi yang dihasilkan dari berkurangnya konsumsi energi fosil dan penghematan subsidi biodiesel dapat mencapai nilai sekitar Rp48 triliun, sebuah angka yang cukup besar untuk menopang berbagai kebutuhan pembangunan nasional.
Dengan dua kementerian kunci yang berbicara satu suara, pemerintah tampak serius menjadikan B50 sebagai tonggak baru dalam peta jalan transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.