Yang paling menarik perhatian adalah rencana penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau pakta perdagangan timbal balik, yang dijadwalkan sekitar tanggal 19 Februari. Kesepakatan ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi ekspor Indonesia sekaligus menjaga keseimbangan neraca perdagangan dengan Washington.
Rapat Kilat Jelang Keberangkatan
Sehari sebelum berangkat, tepatnya Minggu malam (15/2), Prabowo menggelar rapat tertutup yang dihadiri para menteri ekonomi kunci. Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, serta Mensesneg Prasetyo Hadi berkumpul untuk memfinalisasi strategi negosiasi.
“Pak Presiden sangat tegas: setiap keputusan dalam perundingan ekonomi dengan pihak manapun, khususnya Amerika Serikat dalam waktu dekat ini, harus benar-benar menguntungkan Indonesia dan berpihak pada kepentingan rakyat,” ujar Teddy melalui unggahan di akun media sosialnya pada Minggu malam.
Bukan Sekadar Transaksi Jangka Pendek
Menurut Sekretaris Kabinet, Prabowo menegaskan bahwa pendekatan Indonesia dalam diplomasi ekonomi kali ini tidak boleh bersifat transaksional atau hanya mencari keuntungan sesaat. Sebaliknya, setiap kesepakatan harus memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan fundamental ekonomi Indonesia.
“Presiden berpesan agar perundingan ini dapat mendorong produktivitas sektor industri domestik secara maksimal, serta memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasokan global,” jelas Teddy.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.