PUNGGAWANEWS, NEW YORK – Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB ke-80 di New York. Dalam agenda diplomatik bersejarah ini, Presiden akan berpidato selama 15 menit pada 23 September 2025 sebagai pembicara ketiga setelah Brasil dan Amerika Serikat.
Pakar Hubungan Internasional UNPAD, Prof. Teuku Rezasyah, menilai momen ini sebagai “panggung emas bagi sejarah negara Republik Indonesia” dan “kado diplomatik bagi RI di usia 80 tahun.” Menurut Rezasyah, Presiden Prabowo akan berbicara dalam berbagai kapasitas penting—sebagai Presiden RI, pendiri ASEAN, pendiri Gerakan Non-Blok, tokoh besar Organisasi Konferensi Islam, dan tokoh dalam kerja sama Selatan-Selatan.
“Ini merupakan lanjutan dari pidato Bung Karno tanggal 30 September 1960 yang berjudul ‘To Build The World Anew’,” ujar Rezasyah, menekankan signifikansi historis pidato tersebut.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo akan mengangkat berbagai isu global krusial:
- Perdamaian dunia dan penyelesaian konflik internasional
- Krisis Palestina dan situasi Timur Tengah
- Reformasi multilateralisme dan demokratisasi PBB
- Perkuatan peran Sekretaris Jenderal PBB dan reformasi Dewan Keamanan
- Konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan geopolitik
- Pengenalan Asta Cita ke panggung dunia
Rezasyah mengungkapkan bahwa Presiden baru-baru ini melakukan dialog khusus dengan tokoh-tokoh Timur Tengah, sehingga memiliki informasi yang tidak diketahui publik mengenai harapan negara-negara di kawasan tersebut.
Diplomasi Bebas Aktif Indonesia
Kunjungan Presiden Prabowo ke New York ini menjadi momentum untuk menunjukkan konsistensi kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia. Sebelumnya, Presiden telah mengunjungi Tiongkok dan bertemu dengan Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un, kemudian kini hadir di Amerika Serikat.
“Pak Prabowo datang ke New York dengan amunisi diplomatik yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh Presiden Donald Trump juga tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh dunia yang lain,” kata Rezasyah. “Indonesia tetap berada pada posisi tengah, posisi bebas aktif yang sudah merupakan merek dagang kebijakan luar negeri Indonesia sejak awal pendirian negara ini.”
Perjalanan Diplomasi Bertahap
Sebelum ke New York, Presiden Prabowo terlebih dahulu mengunjungi Osaka, Jepang pada 20 September 2025 untuk menghadiri Expo 2025 Osaka dan mengunjungi pavilun Indonesia. Kunjungan ini menandai komitmen Indonesia dalam memperkuat peran aktif di forum global serta mempromosikan inovasi, keberlanjutan, dan kerja sama internasional.
Di Bandara Internasional Kansai, Presiden disambut oleh Kuasa Usaha ad interim Maria Renata Hutagalung, Konsul Jenderal RI untuk Osaka John Cahyanto Bustami, dan Atase Pertahanan RI Tokyo Laksamana TNI Hidayaturrahman, serta pejabat Jepang.
Harapan dan Tantangan
Rezasyah menekankan bahwa pidato 15 menit ini memiliki target ambisius—menjadi “kenangan dunia” seperti pidato bersejarah Bung Karno. “Presiden akan berbicara tentang plan of action untuk menyegerakan perdamaian dunia, tercapainya tujuan Sustainable Development Goals, dan menciptakan dunia yang lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan.”
Terkait isu Palestina, sekitar 140 negara telah mendukung kemerdekaan Palestina, namun tantangan implementasi two-state solution masih memerlukan solusi komprehensif sesuai hukum internasional Konvensi Montevideo.
Stabilitas Dalam Negeri sebagai Modal Diplomasi
Kehadiran Presiden di forum internasional ini juga menunjukkan stabilitas dalam negeri Indonesia. “Simbol dari kebijakan luar negeri adalah dalam negeri beres, kemudian baru Presiden bisa melakukan aktualisasi terhadap hubungan internasional,” tutup Rezasyah.
Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB ke-80 dinanti sebagai momen bersejarah yang dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan diplomatik global yang menjembatani berbagai kepentingan dunia.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.