PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan untuk berpartisipasi dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Gyeongju. Acara puncak forum ekonomi kawasan Asia-Pasifik ini berlangsung Hari ini pada 31 Oktober hingga 1 November 2025.
Kepala negara meninggalkan Ibu Kota pada Kamis (30/10) siang menggunakan pesawat kepresidenan yang take-off dari Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
“Bapak Presiden berangkat menuju Korea untuk turut serta dalam KTT APEC. Diperkirakan beliau akan berada di negara Ginseng tersebut sekitar tiga hari. Kami memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar perjalanan dinas Bapak Presiden berjalan lancar,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat memberikan keterangan kepada awak media, seperti dilansir kantor berita ANTARA, Kamis sore.
Fokus pada Agenda KTT, Tanpa Kunjungan Tambahan
Prasetyo Hadi—yang akrab disapa Pras—menjelaskan bahwa lawatan Presiden Prabowo kali ini murni untuk menghadiri agenda KTT APEC tanpa rencana kunjungan bilateral atau aktivitas diplomatik tambahan lainnya.
“Tidak ada agenda lain di luar KTT. Setelah rangkaian acara selesai, Bapak Presiden akan langsung kembali ke Tanah Air,” tegasnya.
Kunjungan singkat selama tiga hari ini menunjukkan fokus pemerintahan Indonesia pada penguatan kerja sama multilateral di bidang ekonomi kawasan, khususnya dalam kerangka APEC yang beranggotakan 21 ekonomi Asia-Pasifik.
Agenda Strategis: Ekonomi Digital hingga Perdamaian Dunia
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan gambaran lebih detail mengenai substansi yang akan dibahas dalam forum tingkat tinggi tersebut. Menurutnya, KTT APEC tahun ini akan mengangkat isu-isu krusial mulai dari penguatan ekonomi kawasan hingga upaya menjaga stabilitas perdamaian global.
“Seperti halnya pertemuan multilateral lainnya, forum ini akan memperkuat komitmen terhadap multilateralisme dan peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diskusi akan berkisar pada bagaimana negara-negara di kawasan Asia-Pasifik dapat meningkatkan kerja sama ekonomi dan mengidentifikasi sektor-sektor prioritas yang memerlukan akselerasi,” jelas Menlu Sugiono saat diwawancarai delegasi jurnalis Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (28/10).
Teknologi Baru dan Isu Geopolitik dalam Sorotan
Menteri Luar Negeri juga menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi terkini—termasuk transformasi digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi hijau—diprediksi akan menjadi salah satu topik hangat yang dibahas para pemimpin APEC.
“Saat ini dunia sedang mengalami revolusi teknologi. Isu-isu terkait inovasi dan teknologi baru kemungkinan besar akan turut didiskusikan secara mendalam dalam forum ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sugiono menekankan bahwa para pemimpin negara anggota APEC juga akan menyampaikan pesan-pesan perdamaian sebagai respons terhadap berbagai konflik dan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
“Biasanya para kepala negara juga akan menyuarakan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian, merespons dinamika geopolitik yang berkembang, dan mencari solusi diplomatik atas konflik-konflik yang ada,” paparnya.
Indonesia Perkuat Posisi di Kawasan Asia-Pasifik
Kehadiran Presiden Prabowo dalam KTT APEC 2025 di Gyeongju menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi regional yang terus tumbuh. Forum ini juga menjadi ajang strategis untuk membangun jejaring kerja sama bilateral dan multilateral yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
APEC sendiri merupakan forum kerja sama ekonomi yang mencakup ekonomi-ekonomi besar seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Total populasi negara anggota APEC mencapai hampir 40 persen dari populasi dunia dan menyumbang sekitar 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Dengan demikian, partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini diharapkan dapat membuka peluang investasi, transfer teknologi, serta penguatan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan bagi semua pihak.
Sumber: ANTARA, Kementerian Luar Negeri RI





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.