Summarize the post with AI

Pedang menebas lagi. Tangan kirinya pun gugur.

Dengan kedua pangkal lengannya, Mus’ab memeluk tiang bendera ke dadanya — seperti seorang ibu yang mendekap bayinya. Tombak Ibnu Qami’ah kemudian menghunjam dadanya.

Tubuh penuh luka itu pun roboh ke tanah Uhud.

BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Ibnu Qami’ah berteriak sombong, mengira ia baru saja membunuh Nabi Muhammad. Ia keliru. Yang gugur adalah Mus’ab bin Umair — mantan pangeran Mekah yang memilih menjadi tameng bagi utusan Allah.

Sehelai Kain yang Tak Cukup

Saat matahari mulai terbenam meninggalkan warna merah darah di langit Uhud, Rasulullah SAW berjalan memeriksa para syuhada satu per satu. Beliau berhenti di hadapan sesosok tubuh yang wajahnya terbenam di pasir, kedua lengannya telah tiada, dadanya berlubang.

Air mata beliau mengalir.

Di hadapannya tergeletak Mus’ab bin Umair — pemuda yang pernah menjadi yang paling harum, paling rapi, dan paling dimanjakan di seluruh Mekah.

Ketika tiba saatnya pemakaman, sebuah ironi yang memilukan terjadi. Mus’ab bin Umair, pewaris kekayaan Bani Abdar, meninggal dunia tanpa meninggalkan satu pun harta benda. Satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya adalah selembar burda pendek yang usang.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________